Ilustrasi. Foto: Corbis
TOKYO - Jepang mencatat bila anggaran untuk tahun depan mencapai triliunan dolar, karena adanya kekhawatiran tentang utang yang makin menggunung. Jepang pun berusaha untuk menghidupkan kembali perekonomiannya akibat mengalami penurunan yang buruk dalam beberapa dasawarsa ini.
Dilansir dari AFP, Sabtu (26/12/2009), anggaran tersebut juga dilakukan untuk memulihkan ekonomi Jepang yang semakin goyang, di mana tingkat pengangguran naik dan terus menerus terjadi deflasi.
Perdana Menteri Jepang Yukio Hatoyama pun menyetujui anggaran sebesar 92,3 triliun yen atau setara USD1,0 triliun untuk tahun anggaran berikutnya dimulai pada April. Hal ini tercatat belum pernah terjadi sebelumnya.
Perekonomian terbesar di Asia ini diprediksi bakal tumbuh 1,4 persen pada tahun depan, yang ditandai adanya ekspansi dalam tiga tahun, dan membangkitkan ekonomi Jepang kembali dari penurunan terburuk dalam beberapa dasawarsa.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk menghindari resesi yang bisa memberikan dampak dua kali lipat," tukas Hatoyama, saat mengadakan jumpa pers.
Hatoyama sendiri, menandai 100 hari pertamanya, pada pekan ini telah memangkas apa yang dianggapnya sebagai pemborosan untuk belanja publik dan menekan pengeluaran uang untuk mempertahankan ekonomi Jepang.
Rencana anggaran yang dimilikinya pun akan menekan keuangan publik Jepang yang sedang 'sakit'. Pemerintah pun berencana untuk menerbitkan obligasi baru senilai 44,3 triliun yen untuk menutupi rencana pengeluaran tersebut.
Organisasi Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) telah memperingatkan bahwa utang publik Jepang telah diatur agar tidak lebih dari 200 persen dari produk domestik bruto pada 2011.
"Peningkatan utang di Jepang ini sangat mengkhawatirkan. Dengan adanya pemerintah baru, hanya alokasi sumber daya yang telah berubah dan tidak bisa mencegah utang dari kenaikan lebih lanjut," kata ahli strategi ekuitas Okasan Securities Hirokazu Fujiki.
Sebagai informasi, ekonomi Jepang tumbuh pada April-Juni untuk pertama kalinya dalam lima kuartal, yakni rebound untuk ekspor dan stimulus pemerintah. Tapi deflasi yang masih terjadi dan pasar kerja melemah, dipandang sebagai ancaman bagi pemulihan.
Sekadar catatan, tingkat pengangguran Jepang naik menjadi 5,2 persen pada November dari 5,1 persen pada Oktober. Angka ini memburuk untuk pertama kalinya selama empat bulan terakhir.
Sementara indeks harga konsumen turun 1,7 persen pada November dari tahun sebelumnya, membuat kekhawatiran bahwa deflasi dapat membahayakan pemulihan yang rapuh dari resesi terburuk dalam beberapa dasawarsa.
Pekan lalu, bank sentral Jepang mengatakan bahwa kondisi ini adalah tantangan yang kritis untuk ekonomi terbesar di Asia dalam mengatasi deflasi. Hal yang menyakitkan, mendorong perusahaan dan konsumen menunda pembelian.
Kepala ekonom Jepang di Barclays Capital Kyohei Morita memprediksi, tingkat pengangguran masih bisa meningkat ke kisaran di atas lima persen dalam kuartal April-Juni tahun depan, di mana sektor ritel dan sektor lain yang mengurangi tawaran pekerjaan.
Selain itu, deflasi dengan mudah terjadi karena ekspansi ekonomi dan adanya rencana kenaikan pajak tembakau. Di mana inflasi tidak akan terjadi dalam waktu dekat.
"Ini akan menjadi minimal tiga tahun sampai kita melihat kenaikan harga. Pemulihan ekonomi Jepang tidak cukup kuat untuk keluar dari deflasi," katanya.
(ade)