Ilustrasi : Corbis.com
DARI Out Look Perbankan Syariah 2010 diketahui bahwa situasi perbankan syariah 2009 telah menunjukan penurunan laju pertumbuhan volume usaha dan tingkat rentabilitas.
Namun demikian pada tahun 2010 masih terbuka peluang dan kesempatan peningkatan volume usaha dan kinerja perbankan syariah dengan adanya beberapa faktor pendorong seperti pengaturan perpajakan yang lebih kondusif (UU No.42 tahun 2009 tentang PPN), peningkatan credit rating Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi di tingkat global, pendirian bank-bank syariah baru serta semakin gencarnya program edukasi dan diseminasi perbankan syariah oleh Bank Indonesia, perbankan syariah dan pihak-pihak lainnya.
Adanya peluang pengembangan yang cukup cerah tersebut masih tetap dibayangi berbagai tantangan yang dihadapi kegiatan usaha perbankan syariah baik internal maupun eksternal.
Faktor internal terutama yang terkait dengan meningkatkan daya saing, meningkatkan kualitas pelayanan, efisiensi, serta menekan peningkatan pembiayaan non-lancar. Sementara itu faktor eksternal terkait dengan kondisi makro ekonomi baik nasional maupun global yang dapat mempengaruhi kegiatan usaha bank syariah seperti proses pemulihan krisis global dan volatilitas harga bahan bakar minyak.
Sementara itu terlihat bahwa visi, misi dan sasaran-sasaran strategis yang telah ditetapkan oleh para pemangku kepentingan perbankan syariah juga harus disesuaikan dengan perkembangan yang terjadi di internal dan eksternal tersebut.
Kondisi Makroekonomi dan Pengaruh Krisis Global
Ekonomi dunia secara umum pada tahun 2009 mengalami kontraksi yang ditunjukkan oleh angka pertumbuhan ekonomi yang menurun.Namun demikian, kondisi perekonomian global pada semester kedua tahun 2009 menunjukkan pemulihan di seluruh kawasan dari krisis ekonomi global yang mulai merebak sejak semester kedua tahun 2008.
Pemulihan ini salah satunya didorong oleh kinerja ekonomi negaranegara berkembang di kawasan Asia. Indikasi pemulihan ini juga terlihat pada perlambatan kontraksi perekonomian negaranegara maju.Proses pemulihan ini mewarnai prospek perekonomian global pada tahun 2010. Proyeksi yang dilakukan IMF dalamWorld Economic Outlook pada Oktober 2009 dan Consensus Economics Inc pada survei November 2009 memperkirakan perekonomian dunia tahun depan akan mengalami perbaikan di seluruh kawasan.
Sebagai salah satu negara emerging market di kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menunjukkan angka relatif tinggi di tengah krisis ditengarai telah memberikan kontribusi bagi perbaikan perekonomian global.
Seperti yang telah diperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif digerakkan oleh sektorsektor ekonomi berbasis domestik, misalnya sektor pertanian, komunikasi, konstruksi, perdagangan dan transportasi. Selanjutnya pada tahun 2010, kondisi yang kondusif dari perekonomian domestik ini diharapkan tetap terjaga.
Di samping itu, dengan pulihnya perekonomian negara-negara maju sebagai mitra dagang Indonesia, diharapkan pada tahun 2010 kinerja perdagangan luar negeri Indonesia akan mampu berkontribusi positif terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.
Kinerja ekonomi nasional secara umum tahun 2010 diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut terutama didukung oleh pertumbuhan konsumsi swasta yang masih kuat, kinerja ekspor yang membaik dan adanya stimulus fiskal.
Kinerja konsumsi swasta yang masih kuat ini didukung oleh tingkat keyakinan konsumen yang tinggi akibat tingkat inflasi dan suku bunga yang kondusif, serta dampak dari pendapatan ekspor yang meningkat.
Stimulus fiskal oleh Pemerintah yang tercermin pada pertumbuhan konsumsi dan investasi Pemerintah yang tinggi, diharapkan akan mampu menopang kinerja ekonomi domestik. Sementara itu, peningkatan sovereign credit rating Indonesia dari Ba3 menjadi Ba2 oleh Moodys diperkirakan akan berdampak positif terhadap aliran modal masuk dan external finance premium.
Kondisi ini tentu akan mempengaruhi kinerja sektor keuangan nasional dalam menjaga stabilitas, termasuk stabilitas nilai tukar, dan dalam mencapai sasaransasaran pertumbuhannya. Sementara itu pengaruh krisis keuangan global yang telah menyebabkan penurunan volume ekonomi dunia dan tak terkecuali Indonesia, dirasakan pula pengaruhnya pada sektor perbankan dalam negeri.
Salah satu penyebab utama hambatan peningkatan kinerja perbankan nasional ialah akibat menurunnya kinerja perekonomian secara umum. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain, khususnya negara maju, di mana memburuknya kinerja perbankan merupakan akibat langsung dari krisis keuangan global.
Sesuai dengan perkiraan tahun lalu, di mana perbankan syariah nasional masih berada pada tahap perkembangan awal yang relatif belum terintegrasi dengan sistem keuangan global, maka pertumbuhan industri perbankan syariah tidak secara langsung dipengaruhi oleh kinerja keuangan tetapi lebih dipengaruhi oleh kinerja ekonomi secara umum.
Meskipun demikian, praktisi perbankan dan regulator perbankan syariah tetap perlu memperhatikan permasalahan kelancaran pembiayaan ini mengingat perbankan syariah menghadapi intensitas permasalahan yang lebih tinggi di hampir semua sektor dibandingkan apa yang dihadapi industri perbankan secara nasional.
Kecenderungan NPF yang meningkat selain menjadi masalah yang harus dituntaskan oleh manajemen perbankan syariah, dapat juga dilihat sebagai sebuah konsekuensi dari proses pembelajaran untuk lebih mengenal dalam lingkungan usahanya. (Bersambung)
*) Tulisan pada dasarnya merupakan tanggung jawab penulis sepenuhnya,bukan pendapat dari lembaga Bank Indonesia
Oleh:
Dhani Gunawan Idat (//rhs)