Getting time...

Manufaktur Global Membaik

Selasa, 5 Januari 2010 06:35 wib
Foto: Koran SI
Foto: Koran SI
BEIJING - Produksi perusahaan-perusahaan di Asia pada Desember tahun lalu meningkat signifikan ditandai pertumbuhan tercepat yang mencapai rekor tertinggi di China.

Di Eropa manufaktur juga mendapatkan momentumnya pada bulan terakhir 2009 meski peningkatannya tidak secepat di kawasan Asia. Kondisi tersebut semakin menunjukkan adanya keseragaman pertumbuhan di kawasan Asia dalam memimpin pemulihan ekonomi dari krisis global. Di China, indeks belanja manajer (purchasing manager index/PMI) Desember 2009 yang menunjukkan aktivitas perusahaan naik menjadi 56,1 poin dari bulan sebelumnya 55,7 poin. Indeks tersebut merupakan yang tertinggi sejak survei yang dilakukan HSBC pada April 2004.Dalam pengukuran PMI,indeks di bawah 50 berarti terjadi kontraksi ekonomi dan di atas 50 menandakan ekspansi.

Di India, aktivitas manufaktur juga mencapai rekor tertinggi dalam tujuh bulan terakhir menjadi 55,6 poin dari semula 53 poin pada November. Begitu juga di Korea Selatan (Korsel) yang mencatatkan kenaikan PMI menjadi 52,84, tertinggi sejak Agustus tahun lalu. Sebagai perbandingan,PIM Korsel pada November 2009 hanya 52,84 poin. “Indeks manufaktur China masih akan terus membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring meningkatnya ekspor,kembalinya investasi asing sehingga mendorong investasi publik,"  kata ekonom Bank of America-Merril Lynch Ting Lu kemarin.

Kinerja manufaktur Asia tidak terlepas dari peran paket stimulus pemerintah terutama China yang menggelontorkan dana terbesar yakni USD585 miliar guna menggenjot perekonomiannya.Tak heran jika memimpin pertumbuhan ekonomi global diikuti India yang juga mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang krisis. Manufaktur negara Asia lainnya yang terus tumbuh adalah Jepang yang untuk pertama kalinya dalam tiga bulan mencatatkan hasil positif.Menurut survei Nomura dan JMMA, kenaikan ini didorong meningkatnya ekspor ke China sehingga memacu peningkatan produksi perusahaan.

Meningkatnya output di India dan Korsel dinilai sebagai salah satu momentum untuk munculnya peluang adanya peningkatan suku bunga acuan, mengikuti Australia. Bank Sentral India bahkan telah menjadwalkan pertemuan untuk membahas suku bunga pada 29 Januari mendatang. “Bank Sentral Korsel juga bisa saja mempertahankan suku bunga acuan pekan ini, tetapi menurut kami, mereka akan mengubah kebijakan suku bunganya sebelum akhir kuartal," kata ekonom senior HSBC untuk kawasan Asia, Frederic Neumann.

Meski demikian, sejumlah analis menyatakan bahwa kelebihan produksi industri bisa memberikan tekanan kepada laju inflasi. Kondisi ini akan membuat pemerintah mengekang tumbuhnya peredaran uang untuk menjaga tingkat inflasi. “Tetapi, kami percaya inflasi akan bisa diatur dalam bulan-bulan mendatang,"  kata ekonom HSBC Qu Hongboin. Komentar tersebut merujuk pada pernyataan Pemerintah China yang berjanji akan mengambil kebijakan lebih fleksibel tahun ini dengan memperhatikan kondisi pasar. Di kawasan Uni Eropa, indeks PMI menembus level tertinggi dalam 21 bulan pada Desember ini.

Survei Markit Economics kemarin menyatakan, PMI untuk perusahaan- perusahaan di zona Eropa menguat 51,6 dibanding November. Demikian juga di Inggris di mana pertumbuhan PMI-nya naik menjadi 54,1 poin, lebih baik dibanding November yang hanya 51,8 poin. “Akhir Desember menginformasikan bahwa manufaktur di zona Eropa berakhir dengan positif,"  kata ekonom senior Markit Rob Dobson seperti dikutip Wall Street Journalkemarin.

Menurut Markit, meskipun pemutusan hubungan kerja di industri masih terus berlangsung, jumlahnya diperkirakan berkurang sekitar 15 persen.
(Yanto Kusdiantono/Koran SI/css)
TWITTER »
twit