Foto: Koran SI
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat bila perekonomian domestik pada 2009 diperkirakan tumbuh cukup tinggi mencapai 4,3 persen walaupun dampak gejolak ekonomi global belum sepenuhnya usai.
Hal tersebut diungkapkan Pjs Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution saat konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG), di Gedung BI, Jakarta, Rabu (6/1/2010).
Selain ditopang oleh permintaan domestik yang masih meningkat, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh optimisme dan ekspektasi percepatan pemulihan ekonomi global yang semakin kuat terutama sejak pertengahan tahun yang lalu, serta respons kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif.
Reformasi sektor keuangan yang dilakukan selama beberapa tahun sebelumnya juga memberikan kontribusi pada peningkatan daya tahan perbankan terhadap gejolak eksternal.
Ke depan, prospek perekonomian Indonesia diperkirakan semakin membaik terutama apabila dibarengi dengan perbaikan mikro struktural dalam perekonomian.
Daya tahan perekonomian domestik masih cukup kuat dibarengi penurunan tekanan inflasi. Inflasi 2009 tercatat sebesar 2,78 persen di bawah sasaran inflasi BI sebesar 4,5 persen plus minus satu persen.
Rendahnya inflasi di 2009 sejalan dengan moderatnya pertumbuhan ekonomi, menguatnya nilai tukar rupiah, menurunnya harga-harga komoditas dunia, dan penurunan harga BBM dalam negeri.
Perkembangan positif pada laju inflasi dan nilai tukar rupiah sejauh ini mampu menjaga ekspektasi pelaku ekonomi tentang stabilitas ekonomi makro, sekaligus menurunkan risiko dan memberikan kepastian bagi pelaku ekonomi baik di sektor riil maupun di sektor keuangan.
Seiring dengan pemulihan ekonomi, laju inflasi 2010 sedikit meningkat namun masih pada kisaran sebesar lima persen plus minus satu persen.
(ade)