Foto: Corbis.com
LONDON - Survei Markit menyatakan gap antara negara kuat dan lemah di Zona Euro di 2009 semakin melebar. Sektor jasa Jerman melonjak tinggi, sementara jasa di Spanyol berkontraksi.
Melebarnya celah tersebut membuat Bank Sentral Eropa (ECB) semakin pusing. Indeks pembelian pengusaha (PMI) sektor jasa di Zona Euro naik menjadi 53,6 poin di Desember dari 53 poin pada November.Angka di atas 50 mengindikasikan terjadi ekspansi, sementara di bawah 50 berarti berkontraksi.
”Meskipun PMI sektor jasa sedikit di bawah perkiraan, perbaikan yang terjadi secara bulanan menunjukkan adanya momentum pemulihan terus mengumpulkan kecepatan,” kata kepala ekonom Markit Chris Williamson. Survei Markit memberikan gambaran bahwa Prancis dan Jerman memimpin pemulihan ekonomi di Zona Euro.
ECB menghadapi keputusan yang sulit di bulan-bulan mendatang, seiring buruknya kinerja sektor jasa di Spanyol. Bulan Desember lalu PMI sektor jasa Spanyol tercatat 45 poin atau terendah selama lima bulan terakhir.
Survei yang diluncurkan kemarin juga menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan melaksanakan strategi pemotongan harga.Kebijakan ini ditujukan untuk merangsang permintaan.
”Perekonomian sektor jasa Spanyol mengakhiri 2009 dengan catatan rendah, melengkapi kinerja buruk selama dua tahun berturut- turut. Tapi, data Desember memberikan sedikit indikasi bahwa kondisi akan membaik dalam waktu dekat, ada kontrak bisnis baru tapi lapangan kerja terus jatuh,” jelas ekonom Markit Andrew Harker.
Untuk indeks aktivitas bisnis, Markit melaporkan terjadi kenaikan di Desember menjadi 56,8 persen. Kinerja ini di atas ramalan ekonom. Aktivitas perusahaan besar naik lebih cepat dibandingkan pengusaha kecil. ”Laporan Desember memberikan bukti tambahan bahwa ekonomi keluar dari resesi pada kuartal IV-2009,” ujar ekonom Capital Economics Vicky Redwood. Para ekonom menilai survei Markit memberikan keyakinan bahwa pemulihan di 2010 akan berkelanjutan.
Ekonom juga berpendapat bahwa stimulus, pemotongan pajak pertambahan nilai, dan subsidi pembelian mobil baru hanya berdampak kecil terhadap pertumbuhan. (ahmad senoadi/Koran SI) (//rhs)