Foto: Koran SI
JAKARTA - Pasar finansial domestik di awal tahun ini dibanjiri oleh derasnya dana asing yang masuk. Indikasi ini terlihat dari penguatan nilai tukar rupiah dan besarnya transaksi asing di bursa saham.
”Banyak investor asing berinvestasi di Indonesia karena Indonesia memberikan imbal hasil yang besar,” kata pengamat valas Farial Anwar di Jakarta. Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa masuknya dana asing itu harus diwaspadai karena lebih bersifat jangka pendek (hot money). Jika suatu waktu terjadi guncangan di dalam negeri, investor asing akan menarik dananya dan keluar dari Indonesia.
Dia mengakui sulitnya Bank Indonesia mengendalikan keluar masuknya dana asing mengingat Indonesia menganut rezim pasar bebas. Undang-Undang (UU) No 24/1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar menyebutkan bahwa Indonesia membuka lebar masuknya dana dari sektor riil maupun portofolio tanpa adanya batasan, baik waktu maupun jumlahnya. ”Tapi sepanjang tidak keluar secara bersamaan, rupiah akan terus menguat,”imbuhnya. Menurut dia, jika terjadi guncangan dampaknya tidak akan terlalu mengkhawatirkan.
Apalagi fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat. Dia memprediksi sepanjang tahun ini rupiah akan menguat di kisaran Rp8.750–9.500 per dolar Amerika Serikat. Pada perdagangan kemarin rupiah ditutup menguat ke level Rp9.275 dari penutupan sebelumnya Rp9.325 per dolar AS. Selain penguatan rupiah, derasnya dana asing juga terlihat dari nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak perdagangan saham di 2010 dibuka pada Senin (4/1). Dalam dua hari terakhir nilai transaksi saham melampaui Rp5 triliun. Sementara nilai pembelian bersih (net buying) asing dalam tiga hari perdagangan mencapai Rp1,7 triliun, hasil dari pembelian sebesar Rp3,8 triliun dan transaksi jual Rp2,1 triliun.
Dari jumlah tersebut, pembelian asing terbesar pada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Selama dua hari berturut-turut,investor asing memborong saham BUMI dengan nilai pembelian bersih Rp841,480 miliar. Bahkan, net buying asing pada saham BUMI kemarin mencapai Rp580,677 miliar atau 83 persen dari total pembelian bersih sebesar Rp696,81 miliar. Analis pasar modal Felix Shindunata menilai, masuknya dana asing itu merupakan hal yang wajar. Bahkan hal itu menjadi indikasi positif bahwa kondisi dalam negeri memberikan kenyamanan bagi kalangan investor luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia.
”Ini merupakan petunjuk, investor asing merasa nyaman dengan kondisi domestik. Ini merupakan prospek yang baik bagi pasar saham, namun yang perlu diwaspadai adalah hot money”katanya. Menurut dia, prospek pasar saham Indonesia tahun ini lebih baik, ditopang oleh membaiknya kondisi ekonomi dan politik di dalam negeri dan seiring dengan pemulihan ekonomi global. Dia memperkirakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) di tahun ini akan tumbuh rata-rata 20 persen. ”Jika kondisi Indonesia normal, maka proyeksi akan tercapai,” ungkapnya.
Felix memperkirakan, sektor yang akan berjaya di tahun ini adalah pertambangan, terutama batu bara, menyusul tingginya harga komoditas dan banyaknya permintaan barang tambang itu di luar negeri. (j erna/Koran SI) (//rhs)