Getting time...

Donggi Senoro Sudah Diserahkan ke Wapres

Andina Meryani - Okezone
Jum'at, 8 Januari 2010 13:36 wib
Ilustrasi: Menteri ESDM Darwin Z Saleh
Ilustrasi: Menteri ESDM Darwin Z Saleh
JAKARTA - Nasib pengembangan lapangan gas Donggi-Senoro masih terkatung-katung. Pasalnya, sebagai Departemen teknis, Kementerian ESDM mengaku bukanlah pihak yang memutuskan nasib gas di Donggi-Senoro.

Menteri ESDM Darwin Z Saleh mengatakan bahwa Kementerian ESDM sudah melemparkan surat rekomendasi teknis kepada Wakil Presiden, Boediono untuk memutuskan bagaimana kelanjutan lapangan gas ini.

"Saya kira sudah dari ibu Dirjen dan interdeph yang lain dan sudah ada rekomendasinya. Tapi yang memutuskan bukan saya. Saya hanyalah pihak yang memfasilitasi saja perlu ada keputusan dari pihak yang berkompeten. Dalam hal ini adalah orang-orang teknis dan sudah saya laporkan ke Wapres," ujarnya seusai solat Jumat di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (8/1/2010).

Terkait peruntukan gas dari lapangan Donggi-Senoro, Dirjen Migas Evita Legowo pernah menjelaskan, Kementerian ESDM telah menyiapkan empat opsi, yakni pertama, seluruh gas akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan domestik. Kedua, seluruhnya diubah menjadi LNG (ekspor), ketiga, perpaduan LNG dan terakhir untuk pabrik pupuk serta terakhir, perpaduan PNG dan untuk kebutuhan listrik.

Opsi tersebut diserahkan untuk dibahas lebih lanjut pada Sidang Kabinet. Diharapkan pada Januari, telah diperoleh keputusan untuk pengembangan Donggi-Senoro.

Untuk mengembangkan lapangan yang dioperatori PT Pertamina dan PT Medco itu, biaya yang diperlukan sekitar USD3,7 miliar, dengan perincian USD 1,7 miliar untuk pengembangan upstream dan USD2 miliar untuk downstream. Dengan estimasi nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar Rp10.000, maka biaya yang diperlukan sekitar Rp37 triliun.

Saat ini sudah ada 3 perusahaan yang menyatakan berminat membeli gas Donggi-Senoro yaitu PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Panca Amara Utama (PAU). Ketiga perusahaan itu, membutuhkan pasokan gas sekitar 211 MMSCFD. Jumlah ini hanya sebagian dari kapasitas produksi lapangan Donggi-Senoro.

Untuk domestik, Konsorsium PT Pertamina dan PT Medco telah menurunkan harga jual gas menjadi antara USD 5-6 per MMBTU dari USD 6,16 per MMBTU. Penurunan harga jual gas Donggi-Senoro untuk konsumen domestik itu dengan persyaratan pembeli harus siap menyerap gas tersebut dan adanya kejelasan dari segi pembiayaan. (wdi) (rhs)
TWITTER »
twit