Ilustrasi
JAKARTA - Walau tidak dalam waktu dekat ini, potensi jatuhnya pasar modal kembali terindikasi. Hal ini terlihat dari menguatnya indeks harga saham gabungan (IHSG) ke level 2.600 dan rupiah ke level Rp9.200 per USD.
"Karena itu pasar modal potensial sekali untuk turun," kata Ketua Currency Management Board Farial Anwar saat dihubungi okezone di Jakarta, Sabtu (9/1/2010).
Dijelaskannya, January Effect yang terjadi sekarang ini membuat dana panas (hot money) yang berasal dari asing berdatangan ke Indonesia. Dana asing tersebut masuk ke saham, sehingga membuat indeks menyentuh level 2.600.
Pada perdagangan perdana, Senin (4/1/2010) lalu transaksi beli asing sebesar Rp683,07 miliar, sedangkan transaksi jual asing sebesar Rp 292,4 miliar. Net buy asing sebesar Rp 390,6 miliar.
Selain itu, dana asing juga masuk ke berbagai instrumen surat utang yang ada. Hal ini karena tingkat suku bunga yang ditawarkan di Indonesia sangat tinggi, 6,5 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga di AS yang hanya 0,25 persen.
Walau ditutup melemah ke posisi Rp9.240 per USD pada Jumat kemarinjika dibanding penutupan hari Kamis sebelumnya yaitu Rp9.228 per USD, rupiah sempat melewati level Rp9.200 pada hari tersebut, di mana kisaran perdagangan kemarin antara Rp9.286-9.194 per USD. Nilai tukar rupiah pun dia prediksi akan terus mencoba menembus level Rp9.200 per USD.
"Rupiah masih menuju level Rp9.000 per USD, hanya tidak pada pekan depan," ungkapnya. (wdi)(rhs)