Foto: Koran SI
JAKARTA - Pasar modal di seluruh dunia terancam mengalami tekanan kembali. Markets bubbles bukan tidak mungkin akan terjadi kembali pada tahun 2010 ini jika kebijakan pemerintah Amerika Serikat tidak tepat.
Menurut praktisi pasar modal David Cornelius, markets bubbles ini pasti akan terjadi jika pemerintah Amerika Serikat tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya (Fed Fund Rate/FFR) dikisaran nol persen.
"Interest rates close to zero policy tidak akan bisa lebih lama lagi, setidaknya paling lama hanya akan bertahan hingga kuartal II 2010, kalau kebijakan ini (low interest) tetap dipertahankan maka akan membawa market kembali ‘meniup balon’ lagi (markets bubbles), ini berbahaya," jelas David.
Karena itu ia menilai jika pada periode transisi di kuartal I dan II tahun 2010 ini, ada probabilitas besar akan naiknya tingkat suku bunga di AS dengan tujuan untuk menekan kemungkinan bubble economic serta terlalu terdepresiasinya dolar AS.
Pasalnya, dengan suku bunga rendah tersebut investor akan mengalihkan investasinya dari aset likuid menjadi aset portofolio ke saham, obligasi, dan komoditas (move out of cash and buy risky asset).
Sementara itu, menurutnya pertemuan the Fed akan berlangsung pada tanggal 26 Januari mendatang dengan ekspektasi Fed Fund Rate masih akan bertahan di level rendah sebesar 0-0,25 persen.
Hal ini seiring dengan proyeksi tingkat inflasi yang masih akan tetap rendah dalam tahun 2010 disertai dengan perbaikan data-data ekonomi AS pada fase recovery . Di sisi lain, China menaikkan tingkat bunga acuan, sebagai tindakan preventif dengan tight money policy dan concern terhadap naiknya inflasi.
Adapun, harga saham secara global telah naik signifikan sekitar 70 persen dari level terendahnya seiring masih rendahnya tingkat suku bunga (interest rate) di negara maju, yakni AS Eropa, Inggris, serta Jepang.
Inilah yang juga menggiring masuknya dana yang dibelikan (dikonversi) menjadi aset-aset berisiko tinggi di negara berkembang semisal Brazil, China, serta Indonesia. "Sehingga membuat valuasi aset di emerging markets menjadi tampak mahal dalam view jangka pendek," tuturnya.
Selanjutnya, di Indonesia sendiri dengan likuiditas berlebih, Bank Indonesia pada awal tahun ini kembali menetapkan suku bunga acuan (BI rate) di 6,5 persen sebagai antisipasi ekspektasi naiknya inflasi pada tahun 2010 mulai kuartal II mendatang.
Tingginya likuiditas juga relatif menekan penguatan rupiah, ditambah secara teknis sudah menguat dalam beberapa hari terakhir dimana penguatan yang terjadi cukup signifikan. "Namun tentunya dalam waktu dekat akan balik lagi ke ekuilibirium awal di level Rp9.200-9.400," tambahnya.
Walau demikian, saat ini tren indeks harga saham gabungan (IHSG) masih kuat dalam uptrend channel, yakni masih ada room untuk penguatan lebih lanjut.
Dan sekiranya terjadi pelemahan pada minggu ini, kata David hanyalah bentuk koreksi secara teknikal (technical correction) terhadap uptrend sebagai aksi ambil untung (profit taking) semata, bukan karena pembalikan tren.
"Belum ada sinyal pelemahan, walaupun sudah mendekati zona overbought setelah kurang lebih USD200 juta masuk kurang dari seminggu awal perdagangan di tahun 2010," tambahnya.
Indekspun, lanjutnya sangat mungkin untuk menembus level 2.700-2.750 di bulan Januari ini. Sementara untuk kisaran support resistance minggu ini di level 2.565-2.672.
Untuk support-resistance hari ini, Senin (11/1/2010) ada dikisaran 2.596-2.633. Dengan pilihan saham antara lain PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).
(css)