Foto: Corbis
JAKARTA - Selama 2009, Desa Mandiri Energi (DME) tumbuh sebesar 44 persen bila dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 424 unit, pada akhir 2009 jumlah DME pun bertambah menjadi 612 unit.
Adapun dari 612 unit tersebut, 429 unit di antaranya berbasis Bahan Bakar Nabati (BBN), sementara 183 unit lainnya berbasis energi setempat non-BBN seperti mikrohidro, tenaga angin, tenaga surya, biogas, biomassa, serta energi baru terbarukan lainnya.
Seperti dikutip okezone dari situs ESDM, di Jakarta, Senin (11/1/2010), DME berbasis BBN yang telah dikembangkan di Indonesia meliputi DME berbasis jarak pagar, kelapa, kelapa sawit, tebu/sorghum manis, singkong, dan beberapa sumber BBN yang telah dikembangkan sesuai potensi masing-masing wilayah.
Program DME merupakan sebuah program yang dimaksudkan sebagai entry point dalam kegiatan ekonomi pedesaan, pertama kali diluncurkan oleh Presiden RI di Desa Grobogan, Jawa Tengah pada 2007 dan terus dilanjutkan di desa-desa lainnya di seluruh Indonesia. Pada akhir 2014 nanti, ditargetkan akan terbentuk 3.000 DME.
Pada perkembangannya, program DME mulai memanfaatkan teknologi energi baru terbarukan sebagai pembangkit energi alternatif, yang awalnya dikenal dengan istilah “Desa Energi Terbarukan”. Beberapa Desa Energi Terbarukan yang dikembangkan Departemen ESDM berhasil mendapat penghargaan di tingkat ASEAN di antaranya, PLTMH Cicurug Garut dan PLTMH Malang.
DME merupakan alternatif pemecahan masalah penyediaan energi. Pengembangan Program DME diharapkan dapat mengurangi tingkat kemiskinan (pro-poor), memperkuat ekonomi nasional (pro-growth), dan memperbaiki lingkungan (pro-planet).
(css)