Foto: Koran SI
JAKARTA - Harga properti residensial, baik perumahan maupun apartemen, akan naik sekira 7-10 persen tahun ini. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya harga bahan bangunan.
"(Harga properti) Setiap tahun pasti naik mengikuti perkembangan harga material,” kata Direktur PT Catur Mitra Persada Rizal Isky Rusli di Jakarta kemarin.Menurutnya, harga sejumlah bahan bangunan, seperti semen dan bahan lainnya cenderung berubaha setiap tahun. Dengan begitu secara otomatis akan berdampak terhadap harga rumah maupun produk properti lainnya.
Presiden Direktur PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thaib mengatakan, adanya kenaikan harga properti tidak akan mengurangi minat konsumen yang ingin membeli apartemen maupun rumah tapak (landed house).Hal ini, kata dia, dikarenakan adanya tren penurunan suku bunga kredit pemilikan rumah atau apartemen (KPR/KPA). "Kenaikan harga masih dalam tahap wajar,ini hanya penyesuaian dan tidak akan memengaruhi konsumen,” ujarnya.
Hiramsyah mengemukakan, Bakrieland akan menaikkan harga rumah di Bogor Nirwana Residence dan apartemen di kompleks Rasuna Epicentrum. Perseroan juga akan meluncurkan sejumlah kluster baru untuk menyikapi tren membaiknya industri properti nasional. Sementara itu, Direktur Ciputra Property Tbk Artadinata Djangkar mengatakan,harga apartemen berbagai segmen sudah naik bervariasi antara 5-15 persen memasuki 2010.
Harga apartemen mewah, kata dia, sudah di atas Rp20 juta meter per segi, yakni harga tahun lalu. Bahkan,harga apartemen kelas menengah juga sudah naik mencapai Rp13-16 juta per meter persegi, dari harga sebelumnya yang bertahan pada level Rp12 juta per meter persegi. "Penurunan suku bunga tentu akan membantu menggairahkan pasar apartemen. Saya rasa, konsumen akan membeli semua produk properti pada 2010 ini,tidak hanya apartemen,” katanya.
Sementara itu,Kepala Riset PT Jones Lang LaSalle Indonesia Anton Sitorus mengatakan, kenaikan harga properti yang serempak akan terjadi paling cepat pada semester II-2010 atau paling lambat pada akhir 2010. Menurutnya, kenaikan harga properti pada awal tahun ini masih terbatas, yakni untuk proyek tertentu dan di lokasi strategis yang diminati konsumen. Pengembang yang menggarap proyek pada lokasi biasa masih mempertahankan harga lama untuk tetap menarik konsumen.
"Kenaikan harga ini sebenarnya untuk menyesuaikan dengan harga bahan bangunan yang sudah naik sejak tahun lalu. Jadi, masih dalam tahap wajar,” katanya. Langkah menaikkan harga properti residensial itu menunjukkan bahwa pengembang mulai percaya diri. Menurut Anton,meskipun suku bunga acuan (BI Rate) dipertahankan pada level 6,5 persen, namun suku bunga KPR masih berada di level 11-12 persen.
Pengembang dan konsumen sama-sama menunggu perbankan kembali menurunkan suku bunganya, karena masih ada ruang yang cukup besar untuk penurunan bunga. Dia mengemukakan, pemulihan industri properti belum dirasakan semua pengembang. Beberapa pengembang juga masih menunggu suku bunga kredit konstruksi turun.
Pengamat properti Ali Tranghanda mengatakan,kenaikan berkisar 10 persen masih dalam batas kewajaran karena mengikuti inflasi dari harga barang bangunan.Kenaikan dengan kisaran tersebut tidak akan berdampak signifikan terhadap masyarakat kelas menengah atas."Kenaikan justru akan dirasakan masyarakat menengah bawah,” katanya.
Oleh sebab itu,untuk meredam kenaikan harga tersebut hendaknya tingkat suku bunga dapat terus ditekan, sehingga masyarakat menengah bawah tetap mempunyai kemampuan untuk mencicil per bulan meskipun harga rumah atau produk propertinya mengalami kenaikan. Namun, kondisi sekarang berbeda tingkat suku bunga masih tetap tinggi.
(Arif Dwi Cahyono/Koran SI/css)