Getting time...

Performa Obligasi Valas Indonesia Tertinggi

Rabu, 13 Januari 2010 18:10 wib
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto. Foto: Koran SI
Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto. Foto: Koran SI
JAKARTA - Pemerintah mengklaim performa surat utang valuta asing (valas) Indonesia salah satu yang terbaik di pasar sekunder internasional. Salah satunya, jika dibandingkan dengan Filipina.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu) Rahmat Waluyanto mengatakan, performa tersebut tercermin dari tingginya tingkat kepercayaan investor dan penguatan nilai tukar rupiah.

"Ini menyebabkan kinerja kita di pasar sekunder sangat bagus," ujar dia di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (13/1/2010).

Rahmat mengatakan telah menghitung selisih tingkat imbal hasil obligasi Indonesia dan surat utang Amerika Serikat (AS). Kemudian selisih antara obligasi Filipina dan surat utang AS.  
Pada tahun lalu, ujar dia, selisihnya hingga 144 basis poin (bps) dan sekarang hanya 21 bps. "Artinya obligasi Indonesia kinerjanya lebih baik dari Filipina," kata dia.
 
Selama ini, ujar Rahmat, performa obligasi valas Filipina dari sisi imbal hasil selalu dibilang lebih baik dibandingkan Indonesia padahal kenyataannya tidak selalu.
 
Menurut dia, salah satu penyebab obligasi Filipina pada masa lalu dianggap lebih bagus karena sekira 40-50 persen pembelinya adalah bank lokal. Sedangkan di Indonesia kurang dari lima persen.
 
Rahmat lebih lanjut mengatakan, momentum saat ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk kembali menerbitkan surat utang valas berjangka menengah. Obligasi valas ini sudah diterbitkan di pasar internasional senilai USD2 miliar pada Selasa 12 Januari kemarin.
 
Penawaran ini terdiri atas satu seri untuk jangka waktu sepuluh tahun dengan masa jatuh tempo Maret 2020. Adapun tingkat imbal hasilnya ditetapkan enam persen, harga 99,044 persen, dan kupon 5,875 persen.
 
Rahmat menuturkan, pemerintah berhasil menekan yield dan kupon pada level yang rendah dalam penerbitan obligasi valas tersebut. "Pertama karena kita menerapkan strategi yang tepat," terang dia.
 
Dalam hal ini, pemerintah memutuskan hanya menerbitkan satu seri saja dari rencana semula dua seri sehingga permintaannya lebih terkonsenrasi.
 
Kedua, ujar Rahmat, pemerintah menetapkan strategi untuk melakukan penekanan tingkat imbal hasil. Dan ketiga, momentum penerbitannya tepat. "Artinya kita menerbitkan saat perekonomian kita bullish (menguat)," imbuh dia.
(Meutia Rahmi /Koran SI/ade)
TWITTER »
twit