Foto: Corbis
SHANGHAI - Bank Sentral China (PBOC) mengeluarkan sinyal akan memperketat moneter China. Kemarin PBOC meningkatkan imbal hasil surat utang satu tahun sebesar delapan basis poin menjadi 1,8434 persen.
Dalam 20 lelang surat utang satu tahun senilai 20 miliar yuan (USD2,9 miliar) imbal hasil berada di posisi 1,8434 persen.Kenaikan imbal hasil ini di atas ramalan rata-rata trader yang sebelumnya memprediksi hanya naik empat basis poin. Kebijakan ini mengakhiri catatan pembelian obligasi senilai 200 miliar yuan selama 28 hari dan menarik banyak dana dari pasar di minggu ini.
Kemarin, PBOC juga menaikkan rasio persyaratan modal sebesar 0,5 persen atau 50 basis poin. Kebijakan ini berlaku pada 18 Januari. ”Kebijakan PBOC hari ini memberikan arti bahwa China tidak kebal dengan kenaikan suku bunga,” kata trader di bank di Shanghai. Kebijakan Bank Sentral China ini menggambarkan pengetatan yang lebih cepat dari ramalan pasar.
Ini meningkatkan kekhawatiran atas kondisi ekonomi China yang terlalu panas. Investor global mengikuti kebijakan China dan berhasil mendorong ekonomi dunia mengalami rebound. Tapi, kebijakan PBOC kemarin belum mampu mengubah pandangan traderbahwa kenaikan suku bunga dan apresiasi bertahap yuan akan menunggu hingga kuartal II-2010.
”Bank sentral masih diharapkan meningkatkan usahanya melalui operasi pasar terbuka atau kenaikan rasio persyaratan cadangan bank meskipun itu tidak mungkin terjadi sebelum Tahun Baru Imlek,” jelas trader tersebut. Trader menilai PBOC menghindari pengetatan kebijakan moneter secara drastis sebelum Tahun Baru Imlek yang terjadi bulan depan.
Sebab,saat ini banyak pekerja menarik dana dari bank untuk belanja hadiah atau keperluan rumah tangga. Kebijakan PBOC menaikkan imbal hasil surat utang muncul setelah pengumuman terjadinya lonjakan kucuran pinjaman minggu I-2010 sebesar 600 miliar yuan. Ini menambah kekhawatiran bahwa negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia mengalami pemanasan ekonomi di akhir 2009.
Minggu lalu, PBOC mengejutkan pasar dengan menaikkan imbal hasil surat utang tiga bulan sebesar empat basis poin menjadi 1,3684 persen. Sebelumnya, imbal hasil surat utang tidak mengalami perubahan sejak akhir Agustus 2009. Akibatnya, harga saham dan komoditas turun akibat kekhawatiran Bank Sentral China akan melaksanakan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pasar merespons kebijakan PBOC ini dengan kenaikan imbal hasil surat utang dan obligasi jangka pendek di pasar sekunder.Tapi, imbal hasil obligasi jangka panjang tetap stabil karena trader meragukan PBOC akan menaikkan suku bunga acuan pinjaman dan deposito lebih dari 54 basis poin sepanjang 2010.
Trader telah meramalkan hal ini dalam kurva imbal hasil mereka. Isaac Meng dari BNP Paribas menilai, langkah Bank Sentral China menggambarkan keinginan PBOC menaikkan suku bunga acuan.Tapi, langkah ini baru akan dilakukan pada pertengahan tahun, setelah PBOC meningkatkan persyaratan rasio cadangan modal bagi perbankan.
Saham Asia Melemah
Harga saham-saham di Asia turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari terakhir.Indeks saham gabungan Shanghai melemah 0,8 persen, atau pada posisi terendah selama dua minggu. Indeks MSCI Asia Pacifik di luar Jepang melemah 0,4 persen setelah sebelumnya melonjak 41 persen dalam 12 bulan terakhir.Indekssaham Asia Thomson Reuters melemah 0,7 persen. Indeks bursa Australia, S&P/ASX 200 melemah 1,1 persen dan indeks bursa berjangka Standard & Poor’s 500 juga melemah 0,3 persen.
Dolar menguat atas 15 dari 16 mata uang global yang aktif diperdagangkan. ”Pengetatan likuiditas membuat investor khawatir pertumbuhan akan sedikit melambat tahun ini dan ini akan mengakibatkan aliran dana segar ke saham akan mengering,” papar analis West China Securities Co Wei Wei. Analis memprediksi PBOC akan menaikkan suku bunga acuan dan membiarkan yuan mengalami apresiasi terhadap dolar.
Analis juga menilai bank sentral dan pemerintah di Asia berhati-hati dalam mengucurkan stimulus fiskal dan pengetatan kebijakan moneter. Ini memunculkan ketidakpastian pada ekonomi global. ”Saya pikir pasar mungkin melangkah lebih maju dari perkiraan mereka sendiri.Kami melihat kondisi ini seperti pada tahun 2009, di mana saat itu pasar mengantisipasi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed),” kata Head of Treasury Research and Strategy OCBC Singapura Selena Ling.
Sementara, indeks Nikkei ditutup pada posisi tertinggi selama 15 bulan.Kenaikan didorong menguatnya saham Sumitomo Metal Mining akibat kenaikan harga emas meski secara keseluruhan saham turun akibat peningkatan nilai tukar yen. Dolar ditutup menguat menjadi 92,43 yen.
Harga minyak turun 43 sen menjadi USD82,09 per barel sementara emas mendekati level USD1.150 per ons setelah menyentuh level tertinggi selama lima minggu di USD1.157,65 per ons. Komoditas bereaksi positif atas peningkatan impor komoditas China.
Pasar sudah menduga kenaikan imbal hasil surat utang kemarin. Tapi, karena hasilnya mendekati angka tertinggi ramalan pasar, yang sebelumnya meramalkan naik dengan kisaran 1,77–,87 persen.
(Achmad Senoadi/Koran SI/css)