Ilustrasi. Foto: Corbis
NEW YORK - Bank Sentral Amerika Serikat/AS (The Fed) harus menaikkan suku bunga acuan seiring meningkatnya ekonomi atau kehilangan kepercayaan publik atas komitmen menjaga inflasi pada level rendah dan stabil.
Presiden Bank Sentral Philadelphia Charles Plosser menyatakan bahwa ekspektasi inflasi dalam jangka pendek masih bagus. Namun, ada ketidakpastian outlook harga selama dua hingga lima tahun ke depan. Dia menilai, Fed harus mengantisipasi ancaman inflasi 2011 atau lebih.
”Saya yakin Fed perlu menarik sejumlah likuiditas yang telah digelontorkan kepada ekonomi dan mulai menaikkan suku bunga acuan karena ekonomi terus meningkat dan pasar keuangan kembali beroperasi lebih normal,” kata dia, seperti dikutip dari Reuters, kemarin.
“Jika ini gagal dilakukan, ekspektasi akan meningkat dan mendorong pekerja meminta kenaikan gaji serta biaya perusahaan akan meningkat, dan ini akan mendongkrak inflasi,” tambahnya.
Fed telah memotong suku bunga acuan menjadi mendekati nol pada Desember 2008.Fed juga mengeluarkan program darurat, termasuk pembelian sekuritas terjamin hipotek (mortgage-back securities/MBS) senilai USD1,25 triliun.
Program ini untuk membantu ekonomi AS keluar dari resesi terburuk selama 70 tahun terakhir. Fed telah memperpanjang kebijakan suku bunga rendah dan sebagian besar analis tidak mengharapkan Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan hingga semester II-2010. Beberapa pejabat Fed menyarankan memperluas atau melanjutkan pembelian MBS melebihi jadwal yang ditetapkan akan berakhir Maret ini.
Ini ditujukan mendorong pemulihan yang saat ini berjalan lemah dan melindungi pasar perumahan dari potensi gangguan berakhirnya program ini. Plosser menyarankan Fed mengakhiri program pembelian MBS pada Maret mendatang.
“Saya percaya ini sangat penting, dan akan mengurangi intervensi pasar sehingga swasta bisa melanjutkan peran penting mereka. Ini tidak bisa terjadi jika Fed menjadi pemain utama,” Jika Fed melanjutkan program itu, akan menimbulkan risiko penundaan pasar berfungsi secara normal,” imbuh dia.
Menurut Plosser, suku bunga acuan harus naik sebelum tingkat pengangguran -saat ini berada di 10 persen- kembali ke level yang bisa diterima. Plosser meramalkan ekonomi AS tumbuh 3-3,5 persen selama dua tahun ke depan. Pemulihan ekonomi dan pasar keuangan akan membutuhkan waktu.
Harga rumah mulai stabil dan data belanja konsumen menunjukkan peningkatan belanja pada automotif dan premium. Pengangguran diestimasikan akan turun pada akhir 2010. “Tingkat pengangguran akan turun pada level yang bisa diterima, tapi butuh waktu,” ungkap dia.
Biaya TARP Bisa Naik Jadi USD120 Miliar
Di Washington, Presiden AS Barack Obama diperkirakan akan mengumumkan kenaikan biaya (fee) Program Penyelamatan Aset Bermasalah (TARP) menjadi USD120 miliar.
Kenaikan ini bertujuan mengkover kerugian dari dana bailout. “Pengumuman akan dilakukan pada Kamis,” kata Pejabat Senior Gedung Putih.
Pengumuman ini untuk meredakan kepanikan melonjaknya pengangguran menjadi dobel digit. Kebijakan baru juga ditujukan untuk meredam kemarahan publik atas bonus besar eksekutif di perusahaan keuangan.
Publik di AS merasa eksekutif keuangan tidak berhak mendapatkan kompensasi besar karena kebijakan mereka di masa lalu telah memicu krisis keuangan global dan negara terpaksa mengeluarkan dana bailout.
Pejabat administrasi Obama mengatakan, kenaikan fee yang ditarik dari program TARP menjadi USD120 miliar untuk mengompensasi lonjakan biaya TARP. Kenaikan fee diharapkan bisa mengembalikan seluruh bailout yang dibayarkan sebesar USD700 miliar. Analis menilai rencana kenaikan fee akan berdampak negatif terhadap perbankan di AS.
“Itu angka yang besar (USD120 miliar) bagi industri perbankan, terutama bagi bank besar.Itu akan menekan laba bank,” ujar analis Keefe, Bruyette and Woods Inc, Jefferson Harralson. Harga saham perbankan AS pada Selasa turun akibat rencana kenaikan fee tersebut. Indeks perbankan KBW turun 1,96 persen menjadi 46,11.
Saham Bank of America Corp dan JPMorgan Chase & Co melemah lebih dari tiga persen. Sementara saham Citigroup Inc turun 2,75 persen. Bank regional mengalami pelemahan yang lebih kecil di antaranya Regions Financial Corp turun 1,42 persen menjadi USD6,23 per saham dan Fifth Third Bancorp diperdagangkan di USD11,05 per saham atau turun 1,34 persen. (ahmad senoadi)
(Koran SI/Koran SI/ade)