Getting time...

Prospek Capex Jepang Suram

Jum'at, 15 Januari 2010 07:40 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
TOKYO - Pemerintah Jepang mengumumkan pesanan mesin utama November turun 11,3 persen. Tokyo khawatir Jepang akan menghadapi resesi kedua sehingga membutuhkan lebih banyak stimulus.

”Meskipun ekspor dan produksi industri telah pulih, perusahaan belum positif untuk melaksanakan belanja modal karena tingkat ekspor dan produksi masih rendah,” kata senior ekonom Takumi Tsunoda Shinkin Central Bank Research kemarin.

Data ini akan membuat Partai Demokrat, yang saat ini memimpin, berupaya menghindari krisis kedua sebelum pemilihan umum di pertengahan 2010.Jika ini terjadi, Menteri Keuangan Jepang Naoto Kan akan meminta pertolongan Bank Sentral Jepang (BoJ ) agar ikut membantu mendongkrak perekonomian. Kamis lalu Kan mengatakan bahwa BoJ telah mengeluarkan beberapa pilihan kebijakan moneter yang bisa menghindarkan Jepang dari resesi kedua.

Pemerintah Jepang akan bekerja keras untuk mendukung BoJ menciptakan pemulihan ekonomi yang kuat. ”BoJ memiliki banyak pengalaman dan otoritas (kebijakan moneter). Saya ingin bekerja sama dengan BoJ dan terus berkomunikasi secara intensif. Saya percaya jika kita bisa bekerja sama dengan baik,” janji Kan. Pemerintah Jepang memaparkan, harga barang di Desember turun sesuai prediksi.

Namun, ekonom meramalkan deflasi akan bertahan seiring melemahnya ekonomi. Artinya, perusahaan harus memotong harga agar konsumen tetap berbelanja. Total pesanan mesin utama tercatat 625,3 miliar yen (USD6,8 miliar) atau level terendah sejak 1987.Penurunan terjadi pada level stabil menunjukkan ada belanja modal meskipun ekonom rata-rata memprediksi terjadi kenaikan 0,2 persen.

”Saya pikir pesanan mesin utama sudah membaik, tapi pemulihan tidak akan terjadi dalam waktu dekat,” papar Tsunoda. Data juga menunjukkan penurunan obligasi Pemerintah Jepang pada lelang Kamis lalu.Penurunan obligasi ini akibat kenaikan harga saham di bursa Tokyo dan melemahnya obligasi Pemerintah Amerika Serikat (AS).

Obligasi Pemerintah Jepang jatuh tempo 10 tahun turun 0,19 persen menjadi 138,92, setelah dua hari menguat. Lemahnya belanja modal mungkin akan menurunkan ekonomi Negeri Sakura. Padahal ekonomi Jepang baru naik dari resesi terburuk sejak Perang Dunia II akibat permintaan yang solid atas barang Jepang di Asia.

Pesanan manufaktur November turun 18,2 persen.Pelemahan lebih disebabkan oleh reaksi lonjakan di bulan sebelumnya. Pesanan produk nonmanufaktur juga melemah 10,6 persen akibat penurunan permintaan dari sektor telekomunikasi dan keuangan. Tokyo telah menurunkan penilaian atas pesanan mesin dan mengatakan ada tanda-tanda pelemahan di beberapa wilayah. Banyak perusahaan masih enggan meningkatkan belanja modal karena masih memiliki kapasitas tidak terpakai.

Utilisasi kapasitas saat ini masih 80 persen dibandingkan kondisi sebelum bangkrutnya Lehman Brothers. Survei Tankan menyebutkan, perusahaan besar di Jepang berencana memotong belanja modal hingga 28,2 persen pada tahun fiskal 2009/10 (April 2009-Maret 2010). Jika belanja modal mulai turun lagi, pemerintah dan partai berkuasa akan mengajukan belanja tambahan untuk mendongkrak ekonomi.

Kekhawatiran Utang Tetap Ada


Besarnya anggaran belanja untuk tahun depan akan membuat Negeri Sakura dililit utang besar. Saat ini utang Pemerintah Jepang sudah mendekati 200 persen dari produk domestik bruto (PDB). Kekhawatiran meningkatnya utang Pemerintah Jepang dan kemungkinan penurunan peringkat akan berdampak negatif pada obligasi Pemerintah Jepang jangka panjang. Ini akan mendorong imbal hasil melonjak.

Obligasi pemerintah Jepang jatuh tempo 5-20 tahun telah melonjak pada level tertinggi selama satu dekade di Desember lalu. Premi asuransi yang dibeli investor untuk mengamankan risiko gagal bayar surat utang (credit default swap) melonjak di Oktober dan November. Dan kurva pertukaran suku bunga (interest rate swap) mencapai naik pada level tertinggi selama empat tahun.

Ini terjadi karena investor khawatir utang Jepang menggunung dan membuat penggalangan dana jadi lebih mahal. Harga grosir di Desember turun 3,9 persen selama 2009 atau sesuai ramalan. Meskipun harga grosir seperti yang diharapkan, kenaikan harga minyak, melemahnya permintaan dalam negeri memainkan peran penting dalam menguatnya deflasi.
(Achmad Senoadi/Koran SI/css)
TWITTER »
twit