Dirut PLN Dahlan Iskan. Dok dahlaniskan.files.wordpress
JAKARTA - Direktur Utama PT PLN (Persero) Dahlan Iskan mengaku akan mengadakan syukuran terkait terpecahkannya masalah kekurangan gas PLN setelah keputusan pembangunan tiga LNG Floating Receiving Terminal.
Berdasarkan keputusan rapat tiga menteri yaitu Menko Perekonomian, Menteri ESDM, Menteri BUMN serta Dirut PLN, Pertamina, dan PGN yang dipimpin oleh Wakil Presiden Boediono di kantor Wapres, sore ini memutuskan bahwa PLN menjadi offtaker gas di ketiga LNG Floating Receiving Terminal tersebut untuk menghemat biaya operasional PLN bagi pembangkitnya.
"PLN di Jakarta akan selamatan karena hari ini kami warga PLN sangat bersyukur dapat jalan keluar gas ini. Saya anggap bahwa persoalan gas yang selama ini diperjuangkan PLN berhasil dengan sangat gemilang pada hari ini," ujarnya, saat konferensi pers di kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (18/1/2010).
Meskipun demikian, sebagai offtaker gas untuk listrik, PLN belum mendapat kepastian harga beli gas tersebut dari Pertamina dan PGN. Namun, jika proyek ini sudah berjalan dan dapat memenuhi kebutuhan gas PLN, maka PLN dapat menghemat hingga Rp15 triliun dari peralihan penggunaan BBM ke gas.
"Masih dirundingkan, tapi pasti jauh lebih murah dari PLN selama ini. Bisa hemat Rp15 triliun seluruh Indonesia yang berkaitan sama gas," tambahnya.
Dalam keputusan rapat mengenai LNG Floating Receiving Terminal tersebut, Pertamina dan PGN akan bekerja sama membangun LNG Floating Receiving Terminal di Jawa Barat dengan share 60-40 persen.
Sementara itu, untuk di Sumatera Utara akan dibangun oleh PGN dan di Jawa Timur akan dibangun oleh Pertamina. Adapun masing-masing storage membutuhkan dana sekira USD230 juta.
"Klarifikasi angka, dengan operation cost untuk tiga bulan itu sekira USD230 juta, masing-masing," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam kesempatan yang sama.
Sedangkan pasokan LNG akan diperoleh dari dalam negeri seperti dari Lapangan Tangguh dan Blok Mahakam dan sebagian akan diperoleh dari impor, salah satunya dari Qatar. Adapun kapasitas masing-masing storage sebesar 500 mmscfd dan diharapkan akan mulai beroperasi pada September 2011.
"Kalau ada gas lebih yang murah dari mana pun, kalau murah kita ambil. Salah satunya dari Qatar yang lebih murah. Resources itu darimana pun penting kita tampung sepanjang jauh lebih murah," tandas Hatta.
(ade)