Penyelamatan Krisis Perbankan 2008 Versi BI

Ade Hapsari Lestarini - Okezone
Senin, 18 Januari 2010 13:21 wib
Gedung BI. Foto: Koran SI
Gedung BI. Foto: Koran SI
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memberikan gambaran ke masyarakat mengenai diambilnya kebijakan penyelamatan perbankan saat terjadi krisis global 2008 lalu.
 
Diungkapkan Tim Humas BI, dalam keterangan tertulisnya seperti dikutip okezone, di Jakarta, Senin (18/1/2010), buku yang berjudul Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan ini menjelaskan latar belakang kronologi kebijakan hingga upaya penyelamatan sistem perbankan.
 
Buku ini disusun BI untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai upaya penyelamatan sistem perbankan ketika itu.
 
Seperti diketahui, krisis 1997 diakui telah memporakporandakan hampir seluruh sendi perekonomian Indonesia. Krisis keuangan Asia atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama krisis moneter (krismon) itu, berawal di Thailand pada Juli. Krisis ini membawa dampak yang sangat besar terhadap nilai tukar, bursa saham, dan harga aset lainnya di beberapa negara Asia.
 
Hingga Juli 1997 itu, hampir semua pihak mengamini bahwa Indonesia sangat kecil kemungkinannya untuk terimbas krisis. Kala itu, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan tingkat inflasi yang rendah, surplus perdagangan mencapai lebih dari USD900 juta, cadangan devisa yang sangat besar, lebih dari USD20 miliar, dan sektor perbankan dengan kinerja yang sangat baik.
 
Tapi siapa sangka, sebulan setelah itu ekonomi Indonesia terkena imbasnya juga. Gejolak diawali dengan kejatuhan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
 
Akibatnya, banyak bank mulai ditimpa kerugian, terutama bank yang punya pinjaman dalam mata uang asing dan tidak melakukan lindung nilai atas pinjamannya. Gejolak kurs yang ditambah dengan pemburukan arus kas bank-bank menyebabkan bank menghadapi kesulitan likuiditas.
 
Masalah likuiditas ini mengakibatkan bank kehilangan kepercayaan sehingga masyarakat ramai-ramai menarik uangnya secara besar-besaran dari bank. Puluhan bank harus ditutup dengan konsekuensi perekonomian bisa lumpuh total.
 
Oleh karena itu, upaya penyelamatan adalah pilihan yang diambil ketika itu. Namun ongkos yang harus dibayar juga tidak sedikit karena jumlah bank yang harus diselamatkan juga banyak.
 
Berangkat dari pengalaman krisis 1997 itulah, manakala krisis global melanda Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, Pemerintah dan BI proaktif melakukan tindakan pencegahan. Beberapa ketentuan perbankan direlaksasi untuk menghindari runtuhnya sistem keuangan dan perbankan.
 
Tindakan ini dilakukan agar dana nasabah di bank aman sehingga masyarakat tidak perlu benbondong-bondong ke bank menarik dananya. Hasilnya, rush tidak terjadi, sistem perbankan tetap aman dan perekonomian bisa terbebas dari ancaman krisis. Memang ada ongkos dari tindakan itu, namun pastinya tidak akan sebesar bila krisis global sampai menghantam ekonomi Indonesia.
(ade)
  • Robi » 0 Tanggapan
    Kepentingan yang diutamakan dalam pansus hanyalah kepentingan politik golongan. Sangat kentara untuk dilihat bahwa nyaris tidak ada sikap kenegarawanan di sana. Sulit sekali bagi kita untuk mempercayai politisi negeri ini.
    Beri Tanggapan Laporkan
  • johnny » 0 Tanggapan
    krismon 97 jauh berbeda dengan krismon 08. keledai saja tdk melakukan kesalahan yg sama ... blbi merupakan tindakan kotor pemerintah saat itu, smp sekarang belum beres ... tdk perlu ada bailout utk kasus century, toh sampai sekarang banyak nasabahnya belum dibayar !!! sekarang pansus hrs fokus menelusuri kemana uang 6.7t itu disalurkan !!! dan sby, sri & budi hrs mempertanggung jawabkan blunder nya, bkn hanya merasa tertipu !!!!
    Beri Tanggapan Laporkan
  • edwin arifin » 0 Tanggapan
    Perintah SBY selaku kepala negara dan kepala pemerintahan sudah jelas.Indonesia jangan sampai jatuh seperti krismon 1997 yl.Artinya berapapun ongkos yang dibutuhkan untuk penyelamatan itu akan diberikan.Terbukti sekarang dunia mengakuinya hanya tiga negara yang selamat.Indonesia,China dan India.kok para politisi itu nggak mengerti juga.pastilah ada maksud yang buruk thdp pemerintahan sekarang ini yg dilakukan segala upaya oleh para elit politik.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit