Foto: Koran SI
JAKARTA - Pemerintah tidak mempermasalahkan untuk melakukan impor LNG untuk memenuhi kebutuhan gas domestik. Hal ini dimungkinkan jika harga impor memang lebih murah dibanding dengan harga dalam negeri.
"Kalau ada gas lebih yang murah dari mana pun, kalau murah kita ambil," ujar Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam konferensi pers di kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (18/1/2010).
LNG Floating Receiving Terminal di Sumatra Utara, Jawa Barat, dan Jawa Timur, juga sebagian dipenuhi dari impor selain dari Lapangan Tangguh dan Blok Mahakam. Salah satu yang dipastikan akan mengimpor gas-nya ke Indonesia adalah Qatar.
"Salah satunya dari Qatar yang lebih murah. Resources itu darimanapun penting kita tampung sepanjang jauh lebih murah. Kalau kita punya gas kita jual jauh lebih mahal, kita bisa mensupport dalam negeri lebih murah why not," tambahnya
Meskipun tidak merinci berapa selisih gas impor dari Qatar bila dibandingkan dengan gas dalam negeri, namun dia memperkirakan selisihnya sekira USD2 per MMBTU. "Sampai selisih USD2 per MMBTU" jelasnya.
Sebagai offtaker gas untuk listrik, PLN belum mendapat kepastian harga beli gas tersebut dari Pertamina dan PGN. Namun, jika proyek ini sudah berjalan dan dapat memenuhi kebutuhan gas PLN, maka PLN dapat menghemat hingga Rp15 triliun dari peralihan penggunaan BBM ke gas.
"Masih dirundingkan, tapi pasti jauh lebih murah dari PLN selama ini, Bisa hemat Rp15 triliun seluruh Indonesia yang berkaitan sama gas. " ujar Dirut PLN (persero) Dahlan Iskan. (rhs)