Foto: Corbis
TOKYO - Gubernur Bank Sentral Jepang (BoJ) Masaaki Shirakawa memaparkan akan mempertahankan kebijakan moneter yang longgar untuk membantu perekonomian Negeri Sakura dari deflasi.
BoJ akan bekerja sama dengan Tokyo untuk mendukung pemulihan ekonomi. "BoJ melihat bahwa sangat penting bagi ekonomi Jepang untuk keluar dari deflasi dan kembali pada pertumbuhan yang berkelanjutan yang didukung oleh stabilitas harga,” kata Shirakawa kemarin. Shirakawa mengatakan, ekspor dan produksi Jepang naik meskipun permintaan swasta domestik masih belum menunjukkan momentum naik. Pernyataan ini sesuai harapan Menteri Keuangan Jepang Naoto Kan yang meminta BoJ untuk mempertahankan bunga rendah.
Beberapa ekonom memprediksi BoJ mempertahankan suku bunga mendekati nol pada pertemuan di 25-26 Januari mendatang. Sebelumnya BoJ telah meramalkan terjadi penurunan harga selama tiga tahun mendatang dan tidak akan menoleransi inflasi nol persen. Jika dibutuhkan, BoJ akan mempertahankan suku bunga mendekati nol dalam jangka panjang. Naoto Kan merupakan anggota Kabinet Jepang yang sangat keras mengkritisi kebijakan BoJ yang berencana memperketat moneter Negeri Matahari Terbit. Kan bahkan terlihat berupaya mengintervensi kebijakan moneter dibandingkan mantan Menteri Keuangan Jepang Hirohisa Fujii yang turun akibat masalah kesehatan.
Ekonomi Menguat
BoJ mengatakan, ekonomi di sembilan wilayah di Jepang mengalami kenaikan meski dalam tingkat yang berbeda. "Banyak kegiatan ekonomi di wilayah yang mulai bangkit dari titik terendah,”kata BoJ dalam laporan tertulis kemarin. "Penilaian BoJ menggambarkan ekonomi dalam jalur pemulihan dan akan mengawasi perkembangan,” ungkap kepala ekonom Dai-Ichi Life Research Institute Hideo Kumano. Di sembilan wilayah, produksi industri naik akibat peningkatan penjualan mobil dan peralatan rumah tangga.
Kenaikan didorong oleh insentif pembelian barang oleh Tokyo. Meski begitu, tujuh wilayah melaporkan belanja konsumen tetap lemah. Shirakawa mengestimasikan, kecepatan pemulihan tetap moderat dan ekspor serta produksi akan melemah seiring hilangnya stimulus fiskal global."Ekonomi Jepang menguat, tapi belum ada momentum yang mendukung pemulihan yang berkelanjutan pada permintaan swasta dalam negeri,” kata dia. Kepala BoJ Osaka Hideo Hayakawa mengatakan, perusahaan besar di wilayahnya terus mengembangkan pasar di luar negeri. Sementara perusahaan kecil dan penyedia jasa berusaha bertahan dengan pasar domestik. Osaka adalah markas Panasonic Corp dan Sharp Corp.
"Perusahaan multinasional sudah menyerah pada pasar domestik. Indikator ketenagakerjaan dan permintaan domestik tetap suram meskipun ekspor dan produksi naik,”papar dia. Hayakawa mengatakan, subsidi pemerintah untuk mendukung perusahaan mempertahankan tenaga kerjanya berhasil meredam pemutusan hubungan kerja (PHK).
"Namun, perusahaan belum akan menambah tenaga kerja meskipun produksi rebound. Mereka hanya berusaha memenuhi pesanan dan merumahkan karyawannya,” ujar dia.
(Achmad Senoadi/Koran SI/css)