(Ilustrasi: okezone)
GENEVA - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meramalkan ekonomi global bisa menguat pada 2010 dengan tingkat pertumbuhan 2,4 persen. Namun, ekonomi juga menghadapi ancaman jatuh ke resesi kedua (double dip recession) jika pemerintah terlalu dini mengakhiri kebijakan stimulus.
”Rebound permintaan masih belum stabil di beberapa negara dan jauh dari kesinambungan. Sebagian besar rebound pada sektor riil terkait kebijakan stimulus fiskal pemerintah,” ungkap PBB dalam laporan tertulis bertajuk World Economic Situation and Prospects 2010.
PBB memperingatkan terlalu dini untuk mengakhiri stimulus global yang berjumlah USD2,6 triliun. PBB meramalkan produk domestik bruto (PDB) dunia turun 2,2 persen di 2009. “Jika pemerintah di dunia mempertahankan kebijakan ekonomi, akan ada pertumbuhan 2,4 persen di 2010. Volume perdagangan juga tumbuh 5 persen setelah anjlok 13 persen di 2009,” papar PBB.
Namun, PBB menilai kondisi pemulihan dengan pertumbuhan yang berkelanjutan masih suram sebab permintaan konsumen dan investasi masih lemah dan pengangguran terus tumbuh, terutama di negara maju. PBB juga tidak setuju bahwa penguatan di pasar saham merupakan indikasi terjadi pemulihan berkelanjutan.“Penguatan harga saham dunia di atas ramalan mungkin menunjukkan bawa sektor keuangan di negara maju masih terdapat masalah.Ketersediaan kredit masih terguncang dan ini akan memicu kegagalan institusi keuangan dalam waktu dekat,” ungkap laporan tersebut.
Laporan PBB pun menyebut potensi pertumbuhan negara berkembang di 2010. Setelah tumbuh perlahan di 2009,ekonomi bisa tumbuh lebih cepat di 2010. Negara maju diprediksi tumbuh 1,3 persen di 2010 dan negara berkembang 3,5 persen. China diramalkan tumbuh 8,8 persen atau naik 0,7 persen dibandingkan 2009.
(Achmad Senoadi/Koran SI/css)