>

7 Faktor Penyebab Harga Beras Naik

|

Ade Hapsari Lestarini - Okezone

Beras. Foto: Koran SI

7 Faktor Penyebab Harga Beras Naik
JAKARTA - Kementerian Perdagangan menyatakan bila kenaikan harga beras yang terjadi mulai awal tahun ini di beberapa daerah di Indonesia disebabkan oleh tujuh faktor utama.
 
Hal tersebut seperti dikatakan Kepala Pusat Humas Kementerian Perdagangan Robert James Bintaryo, dalam siaran persnya, seperti dikutip dari situs resmi Departemen Perdagangan, di Jakarta, Minggu (24/1/2010).
 
Adapun ketujuh faktor tersebut yakni, pertama karena pengaruh psikologis kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) tahun 2010 sebesar 10 persen, sesuai dengan Inpres No.7 Tahun 2009 tentang Kebijakan Perberasan.
 
Kedua, mundurnya masa tanam yang mengakibatkan mundurnya panen, sehingga masa paceklik menjadi lebih panjang. Ketiga, beras bersubsidi (rasdi) yang belum berjalan penuh atau optimal.
 
Keempat, ekspektasi pedagang dengan gencarnya berita tentang kenaikan harga beras dunia. Kelima, spekulasi kenaikan harga pupuk yang diperkirakan akan diberlakukan mulai April 2010. Keenam, hambatan transportasi akibat gangguan cuaca. Serta ketujuh, stok petani, penggilingan dan pedagang relatif menipis.
 
Untuk itu, pemerintah senantiasa berupaya meredam kenaikan harga beras melalui Operasi Pasar (OP), ini sesuai dengan instruksi Menteri Perdagangan kepada Perum Bulog melalui surat Nomor 56/M-DAG/SD/1/2010 tanggal 13 Januari 2010.
 
Sampai saat ini, tercatat daerah yang sudah melaksanakan OP, yaitu DKI Jakarta (79,81 ton), DIY (11,70 ton) dan NTB (126,32 ton) dengan total realisasi OP sampai dengan 22 Januari 2010 mencapai 217,83 ton.
 
Agar tidak menimbulkan instabilitas harga dan keresahan berkelanjutan di masyarakat/konsumen, langkah OP tersebut akan lebih diintensifkan dan lebih diperluas dengan dukungan dari cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 300 ribu ton untuk stabilisasi harga beras dimaksud.
 
Selain itu, juga dengan melanjutkan program penyaluran beras bersubsidi 2010, di mana realisasi sampai dengan 22 Januari 2010 telah mencapai 29,57 persen atau 77.575 ton dari rencana penyaluran Januari 2010 sebesar 262.320 ton.
 
Di mana telah disalurkan ke-23 provinsi yakni NAD, Sumut, Sumbar, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, DKI, Jabar, Jateng, DIY, Jatim, Kaltim, Kalsel, Kalteng, Sulut, Sulteng, Sultra, Sulsel, Bali, NTB, NTT, dan Maluku.
(ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Dari Listrik Hingga Migas Jadi Keluhan DPD