Foto: Heru Haryono/okezone.com
JAKARTA - Belanda menanamkan investasi senilai USD200 juta di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) untuk memperkuat pasokan air minum.
Pola investasi itu melalui kerja sama dengan pemerintah pusat untuk jangka waktu 15 tahun ke depan. ”Kami dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendukung investasi Belanda di sektor air minum USD200 juta di Aceh,” kata Kepala BKPMG itaIriawan Wirjawan di Jakarta Jumat (22/1) lalu. Dia menilai,investasi itu sangat tepat karena Aceh dan sekitarnya pascatsunami akhir 2004 mengalami kerusakan sumber-sumber air minum dan bersih.
Investasi air minum ini menjadi kebutuhan utama masyarakat Aceh. Selain itu,Pemerintah Provinsi NAD juga akan memanfaatkan teknologi air bersih yang dimiliki Belanda sehingga pengelolaan air minum di wilayah tersebut dapat dikembangkan melalui sumber daya manusia (SDM) domestik. ”Kami akan segera agendakan untuk mewujudkan dukungan kami terhadap investasi tersebut,” ujar dia. Lokasi pengembangan air minum tersebut berada di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.
Lalu akan diteruskan ke daerah Tamia, kemudian ke kawasan Barat Aceh dan Aceh Jaya, hingga air minum Aceh akan terkoneksi ke seluruh wilayah NAD. Deputi Bidang Perencanaan Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Luky Eiko Wuryanto menyatakan, investasi Belanda pada sektor air minum akan menjadi investasi yang cukup baik. Syaratnya,dana yang dipakai bukan berasal dari pinjaman pemerintah pusat maupun pemda.
Dia mengatakan, investasi tersebut dipastikan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat Aceh sehingga harus mendapat dukungan aktif pemerintah. ”Mudah-mudahan, dengan masuknya Belanda dalam pengelolaannya, kinerja dan manajemen perusahaan air minum di wilayah NAD juga semakin menunjukkan peningkatan signifikan yang akhirnya,PDAM (perusahaan daerah air minum) juga bisa lebih efisien dan profesional,” tambah dia.
PemerintahProvinsiNAD,lanjut dia, akan memberikan aset-aset perusahaan air minum yang sebelumnya beroperasi di Aceh sebagai barang modal bagi investasi tersebut, termasuk memberikan dana dan hibah dari luar negeri. ”Kita tidak lagi menaruh uangnya. Dengan demikian, PDAM kabupaten/ kota di seluruh NAD akan terkoneksi dengan baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Komisi Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Antar Daerah Herman Heru Suprobo menilai, masuknya investasi air minum dari Pemerintah Belanda ke Aceh dipastikan akan mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat setempat pascatsunami. Masalah air minum menjadi sangat vital bagi setiap masyarakat, khususnya daerah yang telah mengalami kerusakan total sumber air minum.
Air minum bahkan menjadi kebutuhan utama bagi seluruh investasi yang akan masuk ke Indonesia. Menurut Herman, dengan masuknya Pemerintah Belanda ke Aceh untuk mengembangkan investasi itu,pemerintah harus memberikan berbagai insentif,menarik lebihbanyaklagiinvestorke wilayah tersebut.Terutama masalah iklim investasi yang acapkali menghambat berbagai investasi yang masuk ke daerah-daerah di Indonesia. (Bernadette Lilia Nova)
(//css)