Sektor UMKM Bank Mandiri di 3 Propinsi Tumbuh 22,3%

Candra Setya Santoso - Okezone
Senin, 25 Januari 2010 07:41 wib
Foto: Koran SI
Foto: Koran SI
JAKARTA - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan sektor Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang disalurkan di Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) rata-rata tumbuh 22,3 persen per tahun.

Sementara itu, total  kredit UMKM meningkat dari Rp11,5 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp30,9 triliun pada November 2009. Sedangkan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Provinsi Bali, NTB, dan NTT selama lima tahun terakhir juga rata-rata tumbuh 17,1 persen per tahun, lebih pesat dibandingkan pertumbuhan dana perbankan nasional yang tumbuh 14,8 persen.  Total dana di ketiga provinsi tersebut naik dari Rp21,5 triliun di tahun 2004 menjadi Rp46,7 triliun pada November 2009.

Menurut Wakil Direktur Utama BMRI I Wayan Agus Mertayasa mengatakan potensi perbankan yang baik tersebut menjadi salah satu pendorong bagi Bank Mandiri untuk meningkatkan status Area Denpasar menjadi Kantor Wilayah XI Denpasar yang meliputi wilayah Bali, NTT dan NTB sehingga eksistensi Bank Mandiri di wilayah tersebut bisa lebih optimal.

Sementara itu, perseroan juga meresmikan Kantor Wilayah XI Denpasar untuk memperkuat bisnis di wilayah Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat sebab potensi perkembangan bisnis di ketiga wilayah itu sangat positif bagi perbankan.

”Kami ingin turut berpartispasi aktif dalam pembangunan di wilayah Indonesia Bagian Tengah dengan menyediakan produk dan layanan perbankan yang lengkap bagi masyarakat  di daerah-daerah yang belum terjangkau. Selain itu, kami juga ingin mengembangkan potensi sektor UMKM untuk mendukung pembangunan perekonomian daerah,” kata Direktur Utama BMRI Agus Martowardojo, dalam keterangan tertulis yang diterima okezone, Senin (25/1/2010).

Selain penyaluran kredit kepada segmen UMKM, Bank Mandiri juga ingin memperkuat bisnis perbankan di segmen konsumer di sektor pariwisata dan menggali potensi bisnis di provinsi Bali lebih dalam dan agresif khususnya terkait dengan bisnis transactional banking. Sementara, provinsi NTB dan NTT membutuhkan dukungan perbankan untuk pembangunan infrastukturnya dalam rangka pengembangan sektor pariwisata. Kami juga melihat provinsi NTB dan NTT memiliki potensi besar dalam bidang pertanian yang harus digarap secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Total aset perbankan di ketiga provinsi tersebut selama lima tahun terakhir rata-rata tumbuh 15,1 persen per tahun, lebih pesat dibandingkan perbankan nasional yang tumbuh sebesar 14,2 persen. Pada 2004, total aset perbankan di ketiga provinsi tercatat Rp 29,4 triliun, jumlah naik menjadi Rp 59,2 triliun per November 2009.   

Pertumbuhan kredit juga tinggi, yaitu tumbuh rata-rata 22,1 persen per tahun, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional yaitu 20,5 persen per tahun. Total kredit di ketiga provinsi tersebut naik dari Rp13,4 triliun di tahun 2004 menjadi Rp35,9 triliun pada November 2009.

Sementara itu, Kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang disalurkan di ketiga provinsi tersebut rata-rata tumbuh 22,3 persen per tahun. Total  kredit UMKM meningkat dari Rp11,5 triliun pada tahun 2004 menjadi Rp30,9 triliun pada November 2009. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Provinsi Bali, NTB, dan NTT selama lima tahun terakhir juga rata-rata tumbuh 17,1 persen per tahun, lebih pesat dibandingkan pertumbuhan dana perbankan nasional yang tumbuh 14,8 persen. Total dana di ketiga provinsi tersebut naik dari Rp21,5 triliun di tahun 2004 menjadi Rp46,7 triliun pada November 2009.

Kredit yang sudah di salurkan Bank Mandiri di wilayah itu selama 2009 tercatat Rp2,51 triliun, lebih tinggi dari penyaluran kredit tahun 2008 yang sebesar Rp2,11 triliun. Sebesar 29,23 persen  dari total penyaluran kredit Bank Mandiri di ketiga Provinsi itu pada 2009 atau sekitar Rp733,74 miliar disalurkan ke sektor perdagangan dan sebesar 26,89 persen atau sekitar Rp675 miliar disalurkan ke sektor perhotelan dan restoran.

Pertumbuhan yang baik tersebut tidak terlepas dari kondisi perekonomian yang kondusif. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pendapatan per kapita provinsi Bali tahun 2008 mencapai Rp7,12 juta. Sementara provinsi NTB Rp3,63 juta dan provinsi NTT Rp2,54 juta. Ekonomi Bali pada triwulan III tahun 2009 tumbuh positif sebesar 4,17 persen (YoY), sementara NTB tumbuh 8,11 persen dan NTT mencapai 4,11 persen.
(css)
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit