Foto: Koran SI
DAVOS - Bankir global kemarin mengkritisi rencana Amerika Serikat (AS) dan Inggris untuk meningkatkan regulasi sistem keuangan. Langkah ini dinilai akan merusak pemulihan global yang sudah mulai terjadi.
Pemimpin negara-negara kelompok 20 (G-20) berencana mengatasi krisis keuangan melalui pendekatan global. Tapi, pengambil kebijakan dan regulator menyambut baik rencana Presiden AS Barack Obama untuk menghilangkan risiko perdagangan. "Mari kita mencari regulasi (keuangan) yang baik, regulasi yang lebih baik, tapi tidak lebih banyak regulasi," kata Komisaris Utama Bank Lloyd Peter Levene.
Adapun CEO Standard Chartered Bank Peter Sands menilai, saat ini sudah terjadi perubahan besar di bidang regulasi dan supervisi. Sementara Komisaris Utama Deutsche Bank Josef Ackermann mengatakan, "kita semua akan menjadi orang kalah jika pemerintah mengeluarkan banyak larangan di pasar," ujarnya
Padahal, Ackermann menambahkan, kunci ekonomi dunia adalah konsistensi, aturan global, dan persamaan perlakuan di lapangan. Obama diperkirakan akan menyosialisasi kan aturan yang lebih ketat di Wall Street di ajang Forum Davos. AS dan Eropa juga akan meningkatkan pajak bagi institusi keuangan untuk mengembalikan bailout yang telah dikucurkan sejak 2008.
Tekanan pengekangan yang lebih kuat pada institusi keuangan juga muncul dari rakyat akibat tingginya tingkat pengangguran. Rakyat menilai institusi keuangan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas resesi global. Ekonom memperburuk tekanan dengan mengatakan banyak hal yang harus dilakukan pemerintah untuk mengurangi risiko sistemik perbankan.
CEO Barclays Capital Bob Diamond menganggap langkah Inggris untuk mengenakan pajak pada bonus eksekutif bank dapat mengancam ekonomi negara. Dia menegaskan, harusnya negara fokus pada kebijakan domestik. "Saat ini kebijakan isolasi (pada bank) yang dilakukan AS dan Inggris tidak memberi manfaat.Ada peluang kerja sama yang lebih konstruktif melalui G-20," ujar Diamond.
Ackermann menambahkan, regulasi yang terlalu ketat membuat aktivitas keuangan bergeser ke sektor yang belum ada regulasinya dan merusak elastisitas pasar." Kita berada di pasar keuangan global dan kita membutuhkan aturan yang sama.Jadi,tidak produktif jika masing-masing negara memiliki regulasi yang berbeda," ucap dia. Kepala Bank for International Settlement Jaime Caruana pun menaksir, penerapan standar keuangan global baru membutuhkan kerja sama internasional.
"Negara yang memiliki aturan yang lebih ketat akan merasakan keunggulannya turun,"ungkap dia. Pernyataan berbeda diucapkan Presiden Bundesbank Axel Weber yang mendukung upaya Obama. "Kita harus membatasi aktivitas. Kita harus menambah modal untuk melindungi diri dari aktivitas yang berisiko,"kata dia. Sementara Bank Sentral Inggris (BOE) mengestimasikan pemerintah di dunia telah mengeluarkan dana USD14 triliun untuk menolong sistem keuangan akibat kegagalan Lehman Brothers di 2008.
Pertanyaannya, apa yang akan didapat pemerintah dari kucuran dana sebesar itu. Di lain pihak, kebijakan suku bunga yang berlangsung lama, tingginya kredit konsumsi di Barat, dan tingginya investasi berisiko yang dilakukan institusi keuangan tetap ada. Pada saat bersamaan pengawasan bailout negara dapat menciptakan krisis keuangan yang lebih besar di kemudian hari.
"Mengetahui hal ini, respons rasional pelaku pasar adalah menggandakan kegiatan berisiko mereka.Ini akan menambah biaya penanganan krisis di masa mendatang," kata Piergiorgio Alessandri dan Andrew Haldane dari BOE. BOE berpendapat, regulator harus mencegah hal ini dengan aturan yang lebih ketat. (Ahmad Senoadi)
(//css)