Foto: Corbis
DAVOS - Pemimpin politik, pejabat bank sentral, dan ekonom mengkritisi kebijakan moneter dan perdagangan China di Forum Davos (Forum Ekonomi Dunia/ WEF).
Mereka juga mempertanyakan kemampuan Beijing menangani pemanasan ekonomi. Pejabat tinggi China menjelaskan bahwa kebijakan yang diambil Beijing adalah untuk kepentingan ekonomi dunia. Selama ini, China mempertahankan nilai tukar yuan agar tetap lemah terhadap dolar.
Akibatnya, surplus perdagangan China 2009 tercatatUSD196,1miliar. Dalam pidato hari pertama di Forum Davos, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy langsung menyerang China. Sarkozy mengatakan melonjaknya ketidakseimbangan perdagangan telah merusak pemulihan global. Dalam kesempatan yang sama, Sarkozy menyatakan dukungan terhadap perjuangan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyeimbangkan perdagangan dengan China.
”Nilai tukar merupakan sumber ketidakseimbangan ini. Ketidakstabilan kurs dan rendahnya mata uang tertentu bertentangan kaidah perdagangan yang adil dan jujur,”tegasnya. ”Kita harus mengatasi ketidakseimbangan antara Cina dan AS serta antara eksportir di kawasan Teluk dengan AS,” ungkap Gubernur Bank Sentral Kuwait Ibrahim Dabdoub.
Dalam pembelaannya,Gubernur Bank Sentral China Zhu Min mengatakan bahwa sangat penting menjaga nilai tukar yuan yang stabil, terutama saat pasar sangat volatil.Kebijakan Beijing ini akan berdampak positif kepada ekonomi China dan dunia. Zhu menjelaskan, nilai tukar dolar yang rendah akan memicu perdagangan spekulatif.Akibatnya, serangan atas nilai tukar Asia menguat dan akan mem-bahayakan ekonomi.
Rendahnya nilai tukar dolar telah mengakibatkan krisis keuangan di Asia pada 1990-an. Di Washington, sejumlah bank sentral utama di seluruh dunia menyatakan segera menghentikan pinjaman darurat dalam bentuk dolar AS yang diperkenalkan selama krisis keuangan. Keputusan yang disepakati Rabu (27/1/2010) itu mencerminkan tumbuhnya kepercayaan sistem keuangan kembali sehat dan dianggap sebuah tonggak penting dalam krisis keuangan global.
Kebijakan tersebut juga menandai ditariknya secara terpadu dukungan dari bank sentral untuk pasar keuangan. Kesepakatan penghentian pinjaman darurat itu antara lain disetujuiBankSentralEropa( European Central Bank/ECB), Bank Sentral Inggris (Bank of England/ BOE), Bank Sentral Jepang (Bank of Jepang/BoJ) dan BankSentralSwiss (National Bank Swiss/NBS).
Selain itu, turut dalam kesepakatan tersebut bank sentral dari Kanada, Australia, Brasil, dan Swedia. Para pemimpin otoritas perbankan sentral utama itu menyatakan bahwa mereka akan membiarkan pengaturan swap dolar AS dengan Bank Sentral AS (Federal Reserve/Fed) yang berakhir 1 Februari mendatang.
Pada hari yang sama,The Fed mengumumkan mempertahankan suku bunga di level terendah 0–0,25 persen dan melanjutkan program inkonvensional guna mendukung perbaikan perekonomian di masa mendatang.Keputusan tersebut diambil setelah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) menggelar rapat selama dua hari sejak awal pekan ini. (Ahmad Senoadi/Yanto Kusdiantono)
(//css)