Getting time...

Margin Bisa Jadi Boomerang

Senin, 1 Februari 2010 08:48 wib
Dok Idx
Dok Idx
PEKAN lalu rubrik ini telah menyajikan tentang apa yang dimaksud dengan transaksi margin. Transaksi margin adalah transaksi yang difasilitasi dengan dana pinjaman dari perusahaan efek atau broker.

Besarnya fasilitas margin tergantung nilai jaminan atau kolateral. Jika fasilitas margin 1 : 1 berarti investor bisa melakukan investasi hingga 2 kali jaminan yang dimiliki. Jika Investor memiliki jaminan Rp100 juta, maka ia bisa investasi hingga Rp200 juta. Begitu seterusnya.

Pertanyaan berikutnya benarkah fasilitas margin ini menguntungkan investor sehingga banyak investor yang ingin mendapatkannya? Bahkan banyak juga yang mengajukan fasilitas margin dengan nilai di atas kolateral yang dimilikinya. Untuk itu ada baiknya kita lakukan sebuah simulasi sederhana transaksi dengan margin dan transaksi tanpa margin. Simulasi dilakukan pada dua kondisi pasar yang saling bertolak belakang yakni kondisi pasar bergairah (bullish) dan kondisi pasar yang sedang lesu (bearish).

Kondisi Bullish

Misalkan saja ada dua investor, sebut saja A dan B dengan modal masing-masing Rp100 juta. Dua investor ini melakukan investasi di saham yang sama. Bedanya, investor A memiliki karakter konservatif dan lebih berhati-hati. Ia melakukan investasi sesuai dengan kemampuan keuangannya yakni Rp100 juta. Sedangkan investor B dikenal sebagai investor yang penuh semangat, kadang-kadang meledak-ledak dan percaya diri tinggi. Karena keyakinannya, investor B melakukan investasi tidak hanya dengan uangnya sendiri yang Rp100 juta tetapi ia juga memanfaatkan fasilitas margin dengan perbandingan 1 : 1. Praktis investor B mampu investasi hingga Rp200 juta.

Investor A membelanjakan sahamnya pada saham ABC sebanyak 20 lot di harga Rp4.000, saham XYZ sebanyak 20 lot di harga Rp3.000 dan saham KGB sebanyak 10 lot di harga Rp6.000. Total nilai investasi Rp100 juta (fee transaksi diabaikan). Sedangkan investor B karena mendapatkan margin 1 : 1 maka volume investasinya dua kali lipat dari investor A. Investor B membeli saham ABC sebanyak 40 lot, saham XYZ 40 lot dan saham KGB 40 lot. Semua dilakukan pada harga yang sama dengan investor A.

Dalam satu bulan kemudian ternyata harga saham ABC naik menjadi Rp4.300, saham XYZ naik menjadi Rp3.100 dan saham KGB naik menjadi Rp6.400. Mari kita lihat bagaimana perkembangan nilai asset mereka.

Andai saja semua saham dijual saat itu maka investor A akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp3 juta di saham ABC, Rp1 juta di saham XYZ dan Rp2 juta di saham KGB. Total keuntungan investor A adalah Rp6 juta. Dengan begitu nilai kekayaan investor A dalam sebulan tumbuh sebesar 6  persen menjadi Rp106.

Sedangkan investor B meraih keuntungan Rp6 juta di saham ABC, Rp2 juta di saham XYZ dan Rp4 juta di saham KGB. Praktis total keuntungan investor B mencapai Rp12 juta. Dengan kata lain, dalam sebulan kekayaan investor B tumbuh sebesar 12 persen menjadi Rp112 juta. Pertumbuhan kekayaan investor B dua kali lipat dari investor A.

Kondisi Bearish

Ilustrasi di atas terjadi saat kondisi pasar semarak atau bergairah. Bagaimana jika investasi dilakukan pada saat pasar lesu (bearish). Dengan asumsi bahwa portofolio investasi sama, silahkan simak bagaimana hasilnya ketika saat bearish.

Misalnya dalam satu bulan sejak pembelian, harga saham ABC turun menjadi Rp3.700, saham XYZ terkoreksi menjadi Rp2.800 dan saham KGB terpangkas menjadi Rp5.500. Dalam kondisi seperti itu jika saham tidak dijual segera maka investor A menderita potential loss sebesar Rp3 juta di saham ABC, Rp2 juta di saham XYZ dan Rp2,5 juta di saham KGB. Total potensi kerugian investor A adalah Rp7,5 juta. Artinya kekayaan investor A turun sebesar 7,5 persen dari Rp100 juta menjadi Rp92,5 juta.

Bagaimana dengan investor B? Kondisinya lebih parah. Potential loss investor B adalah Rp6 juta di saham ABC, Rp4 juta di saham XYZ dan Rp5 juta di saham KGB. Total potensi kerugian yang diderita investor B adalah Rp15 juta. Kekayaan investor B dalam satu bulan menyusut sebesar 15 persen dari Rp100 juta menjadi Rp85 juta.

Dalam kondisi bullish  nilai keuntungan investor A lebih kecil dari pada investor B. Tapi dalam kondisi bearish, kerugian investor A lebih kecil daripada investor B. Saat saham turun, investor A tidak menanggung beban utang. Ia hanya menanggung kerugian semata. Sedangkan investor B, selain kekayaannya  yang menyusut 15 persen itu, investor B tetap menanggung beban utang (margin) senilai Rp100 juta plus bunga margin.

Jelas ilustrasi di atas memberikan gambaran bahwa fasilitas margin tidak selalu menjadi madu bagi investor, tetapi dalam kondisi yang tidak terduga saat pasar lesu maka fasilitas margin akan berubah warna menjadi racun yang menyesakkan nafas. Banyak tulisan mengungkapkan fasilitas margin antara madu dan racun. Apakah margin bisa menjadi madu atau racun sangat tergantung kepiawaian investor yang mengelolanya. Jika tidak dikelola dengan fasilitas margin justru bisa menjadi bumerang bagi investor. Karena itu hati-hatilah menggunakan fasilitas margin. (Tim BEI) (//rhs)
TWITTER »
twit