Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani berbicara blak-blakan mengenai kondisi ekonomi Tanah Air di balik layar. Menurutnya, sepanjang 2008 pemerintah seperti menghadapi buah simalakama.
Pemerintah pun kerap dihadapkan pada penetapan kebijakan yang tidak mudah, karena harus mempertimbangkan konsekuensi terhadap kondisi moneter dan fiskal.
Hal ini diungkapkannya saat menjawab pandangan umum fraksi-fraksi DPR tentang RUU pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN 2008, di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/2/2010).
Dalam suasana krisis keuangan global, dia melanjutkan, pemerintah dihadapi pada tren kenaikan inflasi seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia. Level inflasi yang tinggi membuat Bank Indonesia (BI) perlu menaikkan suku bunga acuan (BI rate). Hal ini untuk menahan laju inflasi.
Tetapi, Menkeu melanjutkan, likuiditas yang kering pada sistem perbankan akan semakin tertekan dengan adanya kenaikan BI rate tersebut. "Perekonomian Indonesia dalam kondisi itu seperti menghadapi buah simalakama," ujar dia.
Sebab itu, lanjutnya, kebijakan pemerintah harus disusun secara hati-hati untuk menjaga kepercayaan masyarakat dan dunia usaha. Menurut Menkeu, langkah-langkah pemerintah sepanjang 2008 berhasil meredam gejolak nilai tukar rupiah yang berlebihan.
Suasana perekonomian global yang bergejolak mewarnai pelaksanaan APBN 2008. Dengan berbagai upaya terukur, pertimbangan matang, dan suasana kepercayaan yang terjaga, APBN 2008 dapat ditutup dengan hasil luar biasa. "Baik dari sisi penerimaan negara maupun defisit," kata Menkeu.
Pada 2008 pemerintah juga mencatat sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa) mendekati Rp80 triliun. "Indonesia akhirnya mampu melewati kondisi 2008 yang sulit," imbuhnya.
(Meutia Rahmi /Koran SI/ade)