Foto: Corbis
SHANGHAI - Penasihat ekonomi Pemerintah China menyatakan, Beijing bisa menaikkan suku bunga acuan jika indeks harga konsumen (CPI) satu tahun di atas 2,25 persen. Saat ini pengambil kebijakan China sedang menunggu laporan CPI.
Periset senior Development Research Center, lembaga think-tank Kabinet China, Ba Shusong menyatakan, Beijing bisa mendahului Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) menaikkansukubungaacuanuntuk memerangi inflasi di dalam negeri. Inflasi tinggi dikhawatirkan membuat masyarakat menarik uang dari bank untuk investasi di saham dan properti sehingga potensi penggelembungan aset terjadi.
"Tapi, belum diputuskan apakah hanya menaikkan suku bunga deposito atau deposito dan bunga pinjaman,”kata Ba kepada Reuters kemarin. Saat ini suku bunga pinjaman satu tahun berada pada level 5,31 persen.Bank Sentral China (PBOC) mengontrol besaran bunga deposito dan pinjaman. Banyak ekonomi mengatakan bahwa PBOC tidak akan menaikkan suku bunga acuan sebelum Fed melakukannya sebab kenaikan suku bunga di China bisa mengakibatkan lonjakan aliran dana masuk.
Namun,Ba meyakini masuknya dana asing tidak sebesar yang diperkirakan jika biaya pinjaman dinaikkan. Tingginya bunga pinjaman akan mendinginkan pemanasan di sektor properti. Ekonom meramalkan CPI naik 1,9 persen selama 2009 dan meramalkan akan terjadi lonjakan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Periset PBOC Jiao Jinpu meyakini, tekanan inflasi bukan sebagai pemicu utama kenaikan suku bunga acuan di kuartal I/2010. Soal yuan, Ba menilai masih banyak perdebatan di antara periset apakah China harus membiarkan nilai tukarnya terapresiasi (naik) atau tidak.Pemerintah China masih berhati-hati untuk mengubah kebijakan mematok yuan. Beijing menilai ekspor China masih lemah sehingga perubahan kebijakan bisa membayakan.
Brasil Terancam Gelembung Aset
Kekhawatiran spekulasi gelembung aset bergerak dari China ke Brasil akhir-akhir ini menguat. Spekulasi telah membuat harga saham dan nilai tukar di Brasil mengalami lonjakan. Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengeluarkan peringatan kepada Brasil sebagai pasar negara berkembang yang berpotensi mengalami gelembung aset.
"Ada bahaya gelembung aset di Brasil atau India. Kita harus berhati-hati atas bahaya tersebut. Ini ancaman yang nyata,” kata Ketua OECD Angel Gurria. Pernyataan Gurria muncul seiring kesadaran investor atas bahaya tersebut. Selama Januari investor menarik investasi mereka dari pasar saham Sao Paulo sebesar USD500 juta.
Indeks Bovespa pun anjlok 4,7 persen selama Januari.Ini merupakan titik balik terbesar sejak pasar saham Brasil mengalami rebound seiring pemulihan dari pelemahan ekonomi global. Nilai tukar real melemah pada posisi terendah sejak 2 September 2009. Selama sembilan hari real turun menjadi 1,885 per dolar.Pelemahan ini menurunkan keuntungan tahun lalu saat real menguat 33 persen atas dolar.
Namun,Pemerintah Brasil menyatakan tidak mencemaskan ancaman ini. "Kami tidak mengkhawatirkan hal ini karena kita memiliki cadangan devisa (dolar) dalam jumlah besar,” ujar Menteri Keuangan Brasil Guido Mantega. Pemerintah Brasil berpendapat melalui devaluasi real,ekspor menjadi lebih kompetitif. Mantega sebelumnya meramalkan ekonomi Brasil tumbuh 5,2 persen tahun ini setelah tahun lalu tumbuh nol.
Memasnya ketegangan atas iklim investasi di Brasil dipicu dari perubahan kebijakan China. China-Brasil memang memiliki kaitan ekonomi besar karena Negeri Panda merupakan mitra dagang terbesar dengan total transaksi USD42 miliar di 2009. Seperti diketahui, Beijing sudah memulai kebijakan moneter ketat untuk mendinginkan ekonomi China yang mulai kepanasan.
Kebijakan baru ditujukan untuk meredakan penggelembungan di properti dan bursa saham. Beberapa pihak mencemaskan penggelembungan di China bisa menghancurkan pemulihan ekonomi global. Kebijakan baru China ini langsung berdampak pada ekspor Brasil, terutama pada produk logam dan pertanian.Perubahan di China menguntungkan dolar karena mata uang dunia lainnya melemah. (Ahmad Senoadi)
(//css)