Getting time...

Asing Terus Lepas Saham di Pasar Modal

Selasa, 2 Februari 2010 07:40 wib
Foto: Koran SI
Foto: Koran SI
JAKARTA - Investor asing terus melepas sahamnya sehingga berdampak pada susutnya nilai perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibandingkan awal tahun.

Aksi beli oleh investor mulai berbalik arah sejak pekan ketiga Januari. Berdasarkan data BEI periode 25-29 Januari 2010, transaksi jual asing mencapai Rp5,62 triliun dengan pembelian Rp4,44 triliun.Selama pekan terakhir Januari, investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp1,18 triliun.

Sementara pada perdagangan Jumat (22/1/2010), transaksi jual bersih asing bahkan mencapai Rp1,01 triliun. Dengan begitu,net sellasing sejak 22 Januari mencapai Rp2,9 triliun.Penjualan saham oleh investor asing ini akhirnya menggerus nilai perdagangan di BEI.Jika pada pekan pertama rata-rata nilai transaksi harian di BEI mencapai Rp4,5 triliun, pada pekan terakhir turun ke kisaran Rp3,5 triliun.

Aksi jual oleh asing berlanjut pada perdagangan kemarin, dengan nilai bersih sebesar Rp71,78 miliar. Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada penurunan indeks harga saham gabungan sebesar 23,24 poin (0,89 persen) ke level 2.587,54. Analis Bali Sekuritas Ketut Tri Bayuna mengatakan, tekanan jual asing sebenarnya sudah bisa diprediksi dari sejumlah sentimen negatif yang muncul serta menurunnya harga komoditas.

"Yang menjadi kekhawatiran utama adalah situasi ekonomi dunia. Selain itu tentunya bagaimana sentimen asing terhadap BEI. Asing tidak lagi melihat Indonesia menguntungkan dengan suku bunga yang diperkirakan naik. Keadaan likuiditas yang berkurang juga berpengaruh,” papar Ketut kepada Seputar Indonesiakemarin. Ketut mengaku tidak bisa memprediksikan kapan tekanan jual asing ini akan mereda.

Dia menyatakan, sentimen asing terhadap indeks akan menunggu beberapa faktor seperti perkembangan situasi perekonomian global dan dalam negeri,serta pergerakan harga komoditas. "Investor asing masih akan menunggu kebijakan-kebijakan dari dalam negeri seperti apakah suku bunga akan dinaikkan atau tidak. Juga perlu ditunggu juga kelanjutan kabar dari AS dan China,” kata Ketut.

Dia menambahkan,bursa Indonesia pada dasarnya masih tergolong bagus dibandingkan buras lain seperti Amerika Serikat (AS) dan China yang terpukul cukup keras. Ini karena situasi domestik yang relatif tidak bergejolak. Secara terpisah, analis pasar modal Felix Sindhunata menilai wajar aksi jual saham yang dilakukan investor asing.Menurut dia,investor asing cenderung mencari investasi yang aman di tengah kondisi yang belum jelas.

"Dalam kondisi pasar saham yang kurang kondusif, asing akan mengalihkan pada investasi lain yang relatif lebih kuat seperti pasar uang,”katanya. Menurut Felix, sentimen saat ini adalah ketidakjelasan pemulihan ekonomi, terutama daya tahan ekonomi AS bila stimulus dihentikan. Kekhawatiran tersebut memicu pelemahan bursa AS dan bursa Asia.Selain itu,investor juga masih mencermati kebijakan perbankan AS dan pengetatan moneter China.

Kembali melemahnya harga komoditas dan minyak mentah di pasar global juga membuat investor menarik sebagian investasinya di saham- saham sektor pertambangan yang semula dinilai prospektif. Sementara sentimen lain berasal dari dalam negeri, terkait pemeriksaan Pansus DPR terhadap kasus Bank Century. Investor juga mengantisipasi jika hasil yang diumumkan mengarah pada unsur politis.

"Investor sepertinya masih wait and seeterhadap perkembangan yang terjadi, baik dari global maupun dalam negeri,” kata Felix. Kendati transaksi jual bersih asing melampaui Rp2 triliun dalam dua pekan terakhir, Felix meyakini, dana asing akan kembali mengalir ke bursa.

Analis pasar modal Budi Ruseno juga melihat keluarnya dana asing hanya sementara. Dia memperkirakan, saat pasar mulai kondusif, asing akan kembali mengalirkan dananya ke pasar modal Indonesia. Itu karena prospek ekonomi Indonesia yang masih baik."Dengan potensi pasar dalam negeri yang relatif stabil, mereka akan masuk lagi,” tandasnya. (Harley Ikhsan/ Juni Ttriyanto) (//css)
TWITTER »
twit