BI Rate Diprediksi Jadi 7,5%, Investor Bakal ke Pasar Saham

Candra Setya Santoso - Okezone
Kamis, 4 Februari 2010 11:19 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Tingkat suku bunga BI Rate diprediksi hanya naik dari 6,5 persen ke 7,5 persen, mengingat inflasi diperkirakan naik dari 2,8 persen ke 5,5 persen pada 2010. Akibatnya, dana menggangur investor yang diparkir di pasar uang internasional mendapatkan bunga yang rendah.
 
"Dengan berakhirnya krisis finansial global, para invetsor ini terpaksa harus mengalokasikan dana mereka ke pasar saham, terutama di negara yang ekonominya tumbuh pesat, seperti Indonesia," ungkap Senior Economist, Senior Vice President and Goverment relations Head of Standart Chartered Bank Fauzi Ichsan, dalam buletin yang diterima okezone, di Jakarta, Kamis (4/2/2010).
 
Aliran modal asing ke pasar finansial melibatkan penjualan dolar dan pembelian rupiah untuk membeli saham, surat utang negara (SUN), dan sertifikat bank Indonesia (SBI).
 
Mengingat selisih suku bunga USD dan rupiah yang tinggi sekira 6,5-7,5 persen dan prospek pertumbuhan laba koorporasi Indonesia sebesar 15-20 persen pada 2010, di tambah minat investor global untuk mengambil risiko yang lebih tinggi, prospek rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) sangat positif.
 
Investor asing terus melepas sahamnya sehingga berdampak pada susutnya nilai perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibandingkan awal tahun. Aksi beli oleh investor mulai berbalik arah sejak pekan ketiga Januari.
 
Berdasarkan data BEI periode 25-29 Januari 2010, transaksi jual asing mencapai Rp5,62 triliun dengan pembelian Rp4,44 triliun.Selama pekan terakhir Januari, investor asing membukukan jual bersih (net sell) Rp1,18 triliun.
 
Transaksi jual bersih asing bahkan mencapai Rp1,01 triliun. Dengan begitu, net sell asing sejak 22 Januari mencapai Rp2,9 triliun. Penjualan saham oleh investor asing ini akhirnya menggerus nilai perdagangan di BEI.Jika pada pekan pertama rata-rata nilai transaksi harian di BEI mencapai Rp4,5 triliun, pada pekan terakhir turun ke kisaran Rp3,5 triliun.
 
Aksi jual oleh asing berlanjut pada perdagangan kemarin, dengan nilai bersih sebesar Rp71,78 miliar. Hal ini sedikit banyak berpengaruh pada penurunan indeks harga saham gabungan sebesar 23,24 poin (0,89 persen) ke level 2.587,54.
 
Analis Bali Sekuritas Ketut Tri Bayuna mengatakan, tekanan jual asing sebenarnya sudah bisa diprediksi dari sejumlah sentimen negatif yang muncul serta menurunnya harga komoditas.
(ade)
TWITTER »
twit