Foto: Koran SI
JAKARTA - Komisi VI DPR RI kecewa jajaran direksi baik itu direktur utama maupun wakil direktur utama dari tiga bank BUMN yang diundang tidak hadir dalam rapat dengar pendapat (RDP) hari ini.
Pasalnya, dalam RDP hari ini tidak dihadiri oleh jajaran direksi lengkap, padahal Komisi VI sangat ingin membahas lebih dalam terutama kesiapan perbankan dalam menghadapi perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA).
"Dalam undangan ini harusnya dihadiri direksi lengkap, namun mereka hadir enggak lengkap, tidak tahu kesibukannya apa. Saya tahu kesibukan itu menyita kesibukan beliau, tapi ini juga penting mengambil kebijakan ACFTA," ujar anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Eddy Prabowo, saat RDP, di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
Dalam menghadapi ACFTA tersebut, dirinya mempertanyakan bagaimana kebijakan perbankan yang masih menetapkan suku bunga perbankan yang tinggi sekira 12-14 persen. Padahal, pesaing terdekat, China, justru terus menurunkan suku bunganya hingga hanya sekira lima persen.
Untuk itu, dia meminta kepada perbankan terutama Kementerian BUMN untuk bersama-sama memfasilitasi dan menyiapkan strategi penurunan kredit tersebut.
"Untuk menyelesaikan masalah kita ini. Saya mau tanya ke Pak Parikesit (Deputi Kementerian BUMN bidang Jasa Keuangan dan Perbankan) strategi apa yang bisa disampaikan, seperti apa supaya kita bisa menyampaikan kredit semurah itu," tandasnya.
Sekadar diketahui, direksi bank yang tidak hadir adalah bank pelat merah, yakni direktur utama dan wakil direktur utama dari Bank Mandiri, BNI, dan BRI. Sementara untuk BTN malah tidak ada perwakilannya sama sekali, entah apakah mereka memang tidak diundang layaknya tiga bank BUMN lainnya.(ade)