Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) tengah mencari cara lain yang lebih feasible untuk meningkatkan kecukupan modalnya. Hal ini terkemuka karena rencana Subdebt BNI hingga saat ini belum juga dapat terealisasi karena masih terganjal peraturan.
"Itu belum dibatalin. Masih ada hal-hal yang perlu diperjelas. Kita kan mau supaya bunganya murah. Kalau peraturan ini dan itu yang membuat harganya mahal. Kita mendingan cari cara yang lain," kata Direktur BNI Yap Tjay Soen, seusai rapat dengar pendapat (RDP) di Komisi VI DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
Dia menjelaskan, jika subdebt yang akan dikeluarkannya tersebut tidak menguntungkan, pihaknya tidak akan memaksakan diri dan memilih untuk mencarai cara lain.
“Subdebt-nya ada dua kategori, upper tier 2, dan lower tier 2. Kalau kita sudah masuk upper tier 2 bunganya tidak ekonomis, dari pada tidak ekonomis mendingan cari jalan lain, jangan maksa. Tapi belum tau ini kan masih jalan,” jelasnya.
Selanjutnya, dia menuturkan, jika masih banyak alternatif lain untuk mencari dana dari pasar modal. “Kita kan banyak program, aksi korporasi kan banyak (alternatifnya) dari pasar modal, bisa subdebt, joint venture juga kan ada,” imbuhnya.
Sementara untuk right issue, dia menjelaskan agak berat untuk semester I-2010. “Kayanya berat. Modal kan on streaming pada aset, jadi aset harus dijaga,” tukasnya. (wdi)
(ade)