Foto : Corbis.com
JAKARTA - Meningkatnya kepercayaan di Asia dan wilayah-wilayah berkekuatan ekonomi baru dapat mempercepat tempo pemulihan krisis global.
Hal ini terlihat kontras dengan yang terjadi di Barat, di mana kepercayaan justru melemah ke penurunan pertumbuhan, demikian menurut edisi terakhir dari Global Focus, sebuah laporan bulanan Standard Chartered Bank yang dicetak baru-baru ini.
Hal tersebut diungkapkan, Chief Economist Standard Chartered Gerard Lyons, dalam keterangan tertulisnya yang diterima okezone, di Jakarta, Kamis (4/2/2010).
Pandangan tersebut berdasarkan dari hal-hal fundamental, kebijakan dan tingkat kepercayaan. Hal-hal fundamental menunjukkan suatu pemulihan global sebagai dampak dari adanya percepatan dan dipicu dengan hadirnya kebijakan-kebijakan baru.
Percepatan terjadi karena negara-negara berkekuatan ekonomi baru tampil dalam kondisi yang jauh lebih baik, dan diharapkan dapat memimpin pemulihan ini. Kebalikannya, di kebanyakan negara maju hal ini akan menjadi proses yang lama dan berat. Bagi mereka, pemulihan terasa lemah, seperti yang disampaikan dalam laporan bulanan tersebut.
Perbedaan ini mendorong pandangan Standard Chartered Bank bahwa keseimbangan kekuatan kini tengah bergeser dari Barat ke Timur.
Terlepas dari pergeseran tersebut, akan terjadi beberapa kemunduran, seperti yang tertulis di laporan itu. Cepatnya tempo pertumbuhan simpan-pinjam di China, misalnya, menimbulkan kekhawatiran dan membuat Bank ini kembali menekankan pernyataan yang pernah diutarakan sebelumnya.
Tren ekonomi China memang menguat, akan tetapi sejalan dengan itu kita pun harus mengantisipasi adanya peningkatan ketidakstabilan. Pada dasarnya siklus bisnis juga terjadi di China, seperti halnya di negara manapun juga.
Perdebatan Davos
Laporan Global Focus mengambil pelajaran dari perdebatan di antara para bankir, regulator dan pembuat kebijakan, di Forum Ekonomi Dunia yang baru-baru ini diadakan di Davos, Swiss.
"Seperti yang dicatat oleh Lyons mengatakan tahun lalu, suasana pesimistis mewarnai Davos. Tahun ini terasa realistis. Tampaknya kita harus menunggu sampai tahun depan untuk menjadi optimistis,” demikian bunyi laporan itu.
Laporan dari Standard Chartered Bank ini membahas beberapa isu keuangan dan ekonomi. Isinya memperlihatkan perbedaan antara kebanyakan debat publik terhadap perbankan, dengan pragmatisme dari perdebatan teknokratik. Satu risikonya adalah konsekuensi yang tidak diniatkan akibat berlebihnya peraturan. Juga, menurut Dr Lyons, “adalah vital untuk menghindar dari pengetatan kebijakan di Barat, dan penting bagi negara-negara berkekuatan ekonomi baru untuk memikirkan potensi permasalahan terkait masuknya arus modal," pungkasnya.
(css)