Ilustrasi. Foto: Corbis
SHANGHAI - Pinjaman perbankan di China kuartal I-2010 diprediksi menurun 50 persen dibanding periode yang sama tahun lalu seiring dengan upaya menekan inflasi dan mencegah terjadi bubble aset.
Otoritas China menargetkan jumlah pinjaman perbankan tidak melebihi 2,4 triliun yuan (USD350 miliar) dalam kurun waktu Januari-Maret 2010. Angka tersebut turun dibanding periode yang sama pada 2009 di mana total kredit perbankan mencapai 4,58 triliun yuan.
Media di Beijing, 21st Century Business Herald, melaporkan bahwa perbankan komersial utama di China siap menjadi pelopor dengan disiplin menjaga aliran kredit dan menghentikan sementara pinjaman baru sejak akhir Januari lalu.
Kebijakan baru tersebut diharapkan bisa mengerem 30 persen aliran kredit tahun ini yang diprediksi menembus 7,5 triliun yuan. Dari jumlah tersebut, kredit terbesar disalurkan oleh lender terbesar Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) sebanyak 1,1 triliun yuan per Januari lalu. Sedangkan Bank of China,bank milik pemerintah terbesar yang memperdagangkan valas, hanya menyalurkan 140 miliar yuan.
Bulan lalu Bank Sentral China (PBOC) meningkatkan jumlah giro wajib minimum (GWM) perbankan sebesar 0,5 persen menjadi 15,5 persen sebagai upaya meningkatkan cadangan modal dan meminta perbankan membatasi pinjaman. Sejumlah perbankan utama di China kemarin juga menaikkan tingkat suku bunga hipotek untuk mengiringi kebijakan pemerintah yang memperlambat laju kredit.
Keputusan tersebut salah satunya datang dari Bank of China yang menyatakan akan meniadakan diskon hipotek setelah bank-bank di seluruh negeri begitu agresif menyalurkan pinjaman. Regulator perbankan China mengeluarkan aturan baru dengan memperketat kuota dan meminta data volume pinjaman dari perbankan guna menghindari lonjakan kredit yang tidak terkendali.
Namun, langkah tersebut dinilai akan mengganggu perekonomian terutama di sektor riil. Jika pinjaman ditarik kembali, kredit baru akan semakin sulit didapatkan. “Ini akan buruk bagi perekonomian riil,” kata Zhang Lei, analis pada Bohai Securities di Tianjin, kemarin. Kebijakan tersebut dipicu kekhawatiran sejumlah kalangan yang memperkirakan akan terjadi bubble ekonomi setelah produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 10,7 persen pada kuartal IV-2009.
Media lokal di Beijing menuliskan, langkah China juga sebagai antisipasi terjadi overheating pada nilai mata uang yuan dan tingginya inflasi. Melonjaknya jumlah pinjaman sepanjang tahun lalu juga turut memicu kenaikan harga properti di China sebesar 7,8 persen secara tahunan pada Desember 2009. Kondisi ini mendorong pemerintah menggunakan kredit pajak dan kontrol ketat agar tidak terjadi bubble.
Pengetatan likuiditas di China juga menjadi pertimbangan investor di pasar saham karena hal itu bisa saja menjadi penyebab adanya “gelembung” aset dan menghentikan pertumbuhan yang sudah pada jalur pemulihan. Imbas penahanan likuiditas sudah terasa di bursa saham di mana indeks Shanghai Composite Index mengalami penurunan sembilan persen pada Januari lalu.
Fitch Rating Beri Peringatan
Lembaga pemeringkat Fitch Rating kemarin memperingatkan bahwa perbankan China kini berhadapan dengan risiko terbesar dari bubble dibanding negara lainnya di Asia. Pernyataan Fitch itu berselang sehari setelah lembaga itu menurunkan dua perbankan kelas menengah di China yakni China Merchant Bank (CMB) dan China CITIC Bank (CNCB) dari “D” ke “C/D” akibat melonjaknya kredit bermasalah.
“Kami melihat risiko bubble yang sangat besar pada perbankan China yang telah memberikan kenaikan pertumbuhan pinjaman 32% pada 2009 dan sepertinya akan tumbuh lagi 20 persen pada tahun ini,” kata Fitch dalam pernyataannya kemarin. Fitch menambahkan, kredit perbankan China tumbuh lebih dari 50 persen pada dua tahun periode krisis ekonomi.
Pinjaman baru di China sepanjang 2009 mencapai 9,6 triliun yuan (USD1,4 triliun) naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya seiring program pemerintah yang mempermudah kredit guna mendorong perekonomian saat pasar ekspor mengalami penurunan.
“Saat ini semua perbankan di China memasuki masa-masa genting dibanding tahun lalu, tetapi pelemahan ini hanya terjadi pada CMB dan CNCB,”kata analis Fitch di Beijing Charlene Chu. (yanto kusdiantono)
(Koran SI/Koran SI/ade)