Ilustrasi. Foto: Corbis
NEW YORK - Harga minyak mentah melemah setelah sempat menyentuh level USD78 per barel, pada penutupan perdagangan Rabu (3/2/2010) waktu setempat.
Pelemahan ini terbebani oleh menguatnya USD dan data perkiraan kenaikan persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) selama sepekan terakhir.
Seperti dikutip dari RTTnews, Kamis (4/2/2010), harga acuan minyak untuk kontrak Maret turun tipis 25 sen dolar Amerika ke USD76,98 per barel pada New York Mercantile Exchange (Nymex). Sementara di London, harga minyak jenis Brent naik 59 sen dolar Amerika menjadi USD76,65 pada ICE Futures.
Menurut data inventaris mingguan yang dikeluarkan oleh Departemen Energi AS Energy Information Administration Rabu lalu, stok minyak mentah naik 2,3 juta barel menjadi 329 juta barel dalam pekan yang berakhir 29 Januari. Analis mengharapkan kenaikan hanya 0,2 juta barel.
Sementara itu, konsumsi petroluem AS telah menurun sejak 2007, dan pemerintah melaporkan bahwa setiap pekan dalam sebulan terakhir penggunaan bahan tersebut di negaranya semakin berkurang. Para analis mengatakan, harga minyak menguat karena ekspektasi peningkatan permintaan minyak dunia.
Selama beberapa bulan terakhir, para investor memprediksikan bahwa China dan negara berkembang lainnya akan membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar tahun ini.
Sedangkan gasolin naik nyaris dua persen, usai pemerintah mengumumkan suplai nasional AS untuk gasolin menurun. Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa cadangan gasolin turun 1,3 juta barel pekan lalu. Suplai menurun sehubungan dengan berkurangnya aktivitas pengilang di AS.
EIA melaporkan bahwa, kilang minyak beroperasi pada level terendahnya, berbeda dengan beberapa pekan lalu di 2008 dan saat badai menghentikan aktivitas di Teluk Mexico pada 2005. Berkurangnya aktivitas kilang minyak di AS sehubungan dengan menguatnya harga minyak, sehingga menekan laba margin lebih berat.
(ade)