Foto: Corbis
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis krisis utang yang dialami sebagian negara Eropa tidak akan berpengaruh pada perekonomian Indonesia.
Menurut dia, saat ini kondisi anggaran negara masih cukup sehat, sedangkan penerbitan obligasi pun masih terkontrol.“Dua tahun lalu,mungkin semua orang melihat euro sebagai mata uang yang paling tepercaya karena ditopang oleh suatu kawasan yang sehat. Namun, sekarang terlihat banyak negara, terutama di Eropa Barat, mulai mengalami kemerosotan,” kata dia di Jakarta kemarin. Beberapa negara Eropa saat ini sedang dilanda krisis utang akibat defisit anggaran yang melonjak. Kondisi ini sebagai dampak pembiayaan dana talangan (bailout) dan stimulus fiskal. Jerman misalnya membukukan defisit anggaran 1,59 miliar euro pada 2009.
Tahun ini utang Pemerintah Jerman diperkirakan bertambah menjadi 85,8 miliar euro. Selain Jerman, negara lain yang memiliki masalah adalah Yunani. Utang Pemerintah Yunani ditaksir sekitar 300 miliar euro atau 12,7 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).Angka itu jauh melebihi batas aman defisit anggaran yaitu 3 persen. Kondisi ini membuat peringkat utang Yunani diturunkan oleh sejumlah lembaga pemeringkat. “Hal tersebut kemudian memengaruhi persepsi dari stabilitas mata uang euro.Namun, ini tidak memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Sri Mulyani. Potensi krisis utang yang dialami sebagian negara Eropa, lanjut Sri Mulyani, dinilai tidak akan terjadi di Indonesia.
“Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita masih dianggap relatif sehat. Dengan begitu, Anda bisa melihat kinerja yield (imbal hasil) bonds kita yang bertenor 5-10 tahun menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan,”kata dia. Dengan tingkat defisit anggaran yang masih cukup tinggi di Eropa, tambah Sri Mulyani, memang ada potensi persaingan penerbitan obligasi. “Akan tetapi, itu tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena size defisit anggaran kita tidak terlalu besar,”ujar dia. Pada 2010 defisit anggaran direncanakan sebesar 1,6 persen terhadap PDB, menurun dibandingkan defisit anggaran 2009 yang sebesar 2,5 persen terhadap PDB.
“Size surat utang yang akan diterbitkan tahun ini dibandingkan dengan kapasitas marketsepertinya masih bisa di-absorb. Saya tidak melihat ada persoalan yang mengkhawatirkan,” ujar Sri Mulyani. Menurut dia,investor asing masih melihat Indonesia sebagai negara berkembang yang paling diminati sebagai tujuan investasi sehingga saat ini terlihat arus modal masuk (capital inflow) maupun stabilitas masih terjaga dalam tiga bulan terakhir. Sri Mulyani juga mengatakan, krisis dan masalah utang di Eropa tersebut dapat memengaruhi persepsi terhadap stabilitas mata uang euro dan bagi Indonesia dampaknya akan berpengaruh terhadap nilai tukar uang.
“Pengaruhnya kepada nilai tukar, kalau Anda lihat rupiah sekarang cenderung menguat dan komposisi ini akan kita lihat terus,” ujarnya. Pengamat ekonomi Econit Hendri Saparini mengatakan, Indonesia bisa jadi akan mengalami siklus seperti di beberapa negara Eropa. “Dalam empat tahun terakhir, utang pemerintah bertambah Rp400 triliun. Jika penarikan utang terus tidak terkendali, Indonesia bisa mengalami seperti yang terjadi di Yunani,”tegas dia. Selama ini, lanjut Hendri, pemerintah selalu membandingkan nominal utang terhadap PDB yang memang selalu dalam tren menurun. Sampai 2009 rasio utang terhadap PDB sekitar 30 persen.
“Pemerintah tidak pernah membandingkan utang dengan kemampuan untuk membayar.Pemerintah selalu mengklaim bahwa utang berhasil meningkatkan kue ekonomi,”kata dia. Kebijakan pengelolaan APBN, tambah Hendri, cenderung sekadar utak-atik akuntansi. “Kapasitas APBN terus meningkat, tetapi tidak ada peningkatan kesejahteraan masyarakat yang signifikan,” ujar dia. Anggota Komisi XI DPR Achsanul Qosasi mengatakan, krisis yang dialami negara-negara di Eropa Barat tidak terlalu berpengaruh pada perekonomian Indonesia.
“Memang di Eropa Barat sedang terjadi krisis utang,namun tidak terlalu terasa ke Indonesia karena transaksi kita dengan negara-negara itu tidak terlalu besar,” kata dia. Hal itu akan sangat berbeda jika negara yang mengalami krisis utang itu adalah negara-negara seperti Amerika Serikat, India, China, atau Jepang. “Selama negara itu tidak mengalami dampak krisis apa pun, perekonomian kita akan bisa bertahan dalam posisi yang stabil,”katanya.
Selain itu, ekonomi Indonesia juga didukung oleh cadangan devisa yang cukup besar.“Memang betul kita tidak usah terlalu khawatir jika krisis itu terjadi di Eropa Barat,”ujarnya. (Bernadette Lilia Nova)
(//css)