Menkeu Sri Mulyani. Foto: Koran SI
JAKARTA - Pemerintah belum berniat untuk merevisi target pertumbuhan ekonomi 2010 sebesar 5,5 persen. Padahal banyak pihak yang menyebutkan Indonesia dapat meraih pertumbuhan ekonomi lebih dari proyeksi pemerintah.
"Target pertumbuhan ekonomi 2010 masih sebesar 5,5 persen dan itu akan didukung oleh stabilisasi makro dan perbaikan iklim investasi serta perdagangan internasional," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, saat konferensi pers kinerja perekonomian, di kantor Kementerian Keuangan, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Kamis (11/2/2010).
Menurutnya, asumsi itu karena pemerintah memperkirakan faktor eksternal yang akan berimbas pada perekonomian Indonesia yaitu proses perbaikan ekonomi global tidak akan semulus yang dibayangkan.
"Krisis Eropa terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan. Recovery ekonomi global pun tampaknya tidak akan tajam tetapi agak landai. Selain itu, risk domestic juga perlu diperhatikan dalam menentukan asumsi pertumbuhan ekonomi ini," jelasnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tahun ini akan didukung pertumbuhan rumah tangga sebesar 5,2 persen, belanja pemerintah 8,2 persen, investasi 7,2 persen, ekspor 11,4 persen, dan impor 14,6 persen.
Sementara itu, secara sektoral, sektor pertanian diperkirakan mampu tumbuh sebesar 3,8 persen. Sedangkan sektor industri sebesar 3,7 persen, dan sektor jasa-jasa sebesar 6,1 persen. "Pemerintah lebih konservatif di sektor pertanian, padahal biasanya selalu di atas empat persen selama delapan kuartal terakhir," tambahnya.
Namun, dirinya tidak menampik jika peluang untuk meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2010 dengan satu kondisi di mana perbankan mampu memainkan perannya untuk menyalurkan kredit sekira 20 persen untuk menggerakkan sektor riil. Namun, kondisi tersebut menjadi sulit ketika masalah politik menjadi perhatian publik.
"Kalau perbankan bisa ekspansi kredit sekira 20 persen, bisa saja growth di atas 5,5 persen. Tapi di kuartal ini sepertinya masih konservatif karena banyak menunggu kondisi politik. Kuartal I ini harus melihat faktor domestik dan eksternal risk, mungkin baru terlihat pada kuartal kedua atau semester kedua 2010," jelasnya. (ade)