Getting time...

Target Pertumbuhan Ekonomi 2010 Tetap

Jum'at, 12 Februari 2010 07:42 wib
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Pemerintah menegaskan untuk tidak merevisi target pertumbuhan ekonomi 2010 yang dipatok sebesar 5,5 persen kendati pencapaian pada 2009 ternyata melampaui ekspektasi.

Meski kondisi dalam negeri kondusif, faktor eksternal dinilai masih perlu diwaspadai. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pemerintah perlu melihat semua faktor yang memengaruhi perekonomian,baik dari sisi internal maupun eksternal.

“2010 ini tentu diharapkan lebih baik lagi. Pertumbuhan ekonomi dan momentumnya bisa kita jaga, akan tetapi (target) growth (perekonomian) belum akan kita revisi. Downside risk masih bisa menggelayuti dan menarik ke bawah pertumbuhan ekonomi kita,” tutur Menkeu di Jakarta, kemarin.

Menkeu memperkirakan risiko negatif dari situasi perekonomian dunia dapat muncul pada semester II/2010 terkait kebijakan penarikan stimulus oleh negara-negara maju yang diperkirakan akan ditempuh pada periode tersebut. Krisis utang di sejumlah negara Eropa yang lebih cepat dari perkiraan bahkan mencerminkan daya tahan ekonomi kawasan itu tidak sekuat yang diperkirakan sebelumnya.

Selain itu,meski telah melakukan kebijakan konsolidasi fiskal, perekonomian Amerika Serikat (AS) pun dinilai masih rapuh. Terkait asumsi pertumbuhan ekonomi yang dipertahankan 5,5 persen, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan Anggito Abimanyu mengatakan bahwa proyeksi itu juga telah memperhitungkan pengaruh dari pelaksanaan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), khususnya yang terkait kontribusi dari ekspor dan impor.

”Pertumbuhan ekspor sebesar 11,4 persen dan impor 14,6 persen sudah memikirkan faktor FTA,dampak positif dan negatifnya,”kata dia. Sementara itu,laju pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,5 persen sepanjang 2009 dinilai menandakan Indonesia mempunyai daya tahan yang lebih tinggi.

Sri Mulyani mengatakan, pemerintah akan menjaga agar konsumsi rumah tangga tumbuh di atas 5 persen dalam jangka menengah sehingga pertumbuhan ekonomi bisa melaju rata-rata di atas enam persen per tahun. Konsumsi rumah tangga diketahui membentuk sekitar 65 persen produk domestik bruto (PDB) Tanah Air.

Sepanjang 2009 konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen atau lebih rendah dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 5,3 persen. Tahun ini pertumbuhan konsumsi rumah tangga ditargetkan sebesar 5,2 persen. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta jajarannya di bidang hukum, politik, dan keamanan (polkam) menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang dicapai selama 2009.

Caranya dengan mempertahankan situasi politik, sosial, hukum, keamanan, dan ketertiban masyarakat yang kondusif. ”Saya garis bawahi karena kita semua sangat berkepentingan menjaga iklim kondusif ini bagi suksesnya ekonomi kita,” ujar Presiden dalam rakor polkam di Kantor Presiden, Jakarta kemarin.

Menurut Presiden, indikator yang ada memastikan bahwa pada 2010 perekonomian nasional mampu tumbuh 5,5 persen. Sementara capaian pada 2009 membuktikan bahwa kebijakan stimulus senilai Rp76 triliun yang ditempuh pemerintah cukup efektif mengantisipasi dampak krisis keuangan global.

”Ini artinya kebijakan kita minimalkan dampak krisis telah mencapai sasaran. Ini prakondisi yang harus kita jaga. Saya tidak mau peluang yang kita miliki untuk berbuat lebih baik lima tahun ke depan ini tidak kita daya gunakan dengan baik,” tegas Presiden.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Econit Hendri Saparini menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi jika dibandingkan negara-negara lainnya memiliki dasar yang rapuh. ”Pertumbuhan ekonomi yang di atas 4 persen memiliki karakteristik didorong oleh hot money,biaya mahal karena utang, dan komoditas primer. Kalau ini saja, pertumbuhan tidak bermanfaat,”cetusnya. Menurut dia, ekspor yang masih berkutat pada bahan mentah menunjukkan bahwa daya saing belum tinggi. Sementara investasi yang dikatakan mulai pulih pun tidak berkualitas karena belum menghasilkan nilai tambah.

”Yang penting bukan mendorong pertumbuhan investasi, melainkan investasi di sektor apa, siapa yang terlibat, dan siapa yang menikmati.Investasi harus menciptakan value added yang besar. Kita tidak bisa hanya bicara pertumbuhan,” tuturnya. (Bernadette Lilia Nova)
(Koran SI/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit