Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Ekonom INDEF Aviliani melihat peluang dalam dua tahun ke depan adalah saatnya Indonesia untuk menarik dana besar-besaran dari investor karena para investor melihat Indonesia sebagai negara yang potensial untuk berinvestasi.
Indonesia akan semakin terlihat seksi di mata investor jika pemerintah dengan kebijakan infrastruktur, energi, dan pangan bisa lebih cepat akan memperluas kesempatan.
"Dua tahun ke depan ini saatnya Indonesia menarik dana besar-besaran dari investor, karena investor mencari negara bisa mendapatkan mereka profit," ujarnya seusai Seminar Pengawasan Perbankan Sistem Keuangan Nasional, di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (15/2/2010).
Menurutnya, meskipun saat ini Indonesia sedang kebanjiran dana asing yang overlikuid namun hanya tertampung di pasar uang pasar dan pasar modal serta belum tertampung di sektor riil.
Oleh karena itu, dirinya mengusulkan agar pemerintah dalam mengeluarkan Surat Utang Negara (SUN) tidak hanya dalam bentuk cash namun SUN untuk pembiayaan yang dibutuhkan contohnya SUN untuk PLN.
"SUN bentuknya bukan hanya dalam bentuk cash, misalnya PLN enggak punya uang kalau hanya dari bank saja tidak bisa, PLN butuh apa dari negara mana, pemerintah mengeluarkan SUN, jadi tukar-tukaran SUN atau obligasi, apapun itu misalnya SUN infrastruktur. Itu laku sekali," jelasnya.
Lebih lanjut dirinya menegaskan meski kondisi ekonomi di Eropa tengah krisis, tidak akan banyak berpengaruh pada kondisi dalam neegri. Namun jika Indonesia tidak mampu mengambil kesempatan ini, maka pada empat tahun mendatang kondisi akan semakin sulit karena ekonomi negara-negara maju sudah akan pulih.
"Kalau dua tahun ini kita momennya telat, mungkin empat tahun lagi negara maju sudah mulai pulih dan kita naiknya jadi lambat," tandasnya. (ade)