Foto: Corbis
TOKYO - Hanya ada satu alasan mengapa perekonomian Jepang di 2009 tetap kokoh dan berhasil menempati posisi kedua dalam hal pertumbuhan domestik bruto (PDB). Alasan tersebut yakni, pertumbuhan ekonomi Jepang yang disokong aktivitas ekonomi China.
Meski demikian, sektor konsumsi rumah tangga masih tertekan akibat ancaman deflasi. Jepang mempunyai tingkat konsumen di mana mereka selalu menjaga keuangannya dan bergantung dari sektor ekspor yang meningkat.
Seperti dikutip dari AFP, Selasa (16/2/2010), menurut suatu penelitian yang diutarakan salah seorang mahasiswa tehnik berusia 20 tahun di Shanghai, dirinya menghabiskan 300 ribu yen atau setara USD3.300 (sekira Rp30,69 juta) untuk membelanjakan barang-barang mewah saat berkunjung ke Jepang. Seperti membelanjakan pakaian, tas, sepatu, serta kosmetik. "Kebanyakan Saya menghabiskan dana tersebut ke pusat perbelanjaan," ujar Shi Minfei.
Ditambahkannya, ibukota Jepang masih memiliki keunggulan di banding ibukota Shanghai, China dari segi keindahannya.
Sementara pengunjung lain, seorang ibu rumah tangga berusia 42 tahun dari Beijing, telah menghabiskan 200 ribu yen hanya untuk membelikan sebuah "Gundam" atau yang biasa dikenal anak-anak robot mainan, untuk putranya yang baru berusia 12 tahun. "Saya menghabiskan anggaran untuk belanja hingga 500 ribu yen, padahal 200 ribu yen untuk membeli "Gundam," ujarnya.
Hal tersebut yang mendorong perekonomian Jepang selama dua dekade mengalami kelesuan, setelah pasar saham dan sektor real estate mengalami penurunan pada awal 1990-an, sehingga mengantarkan Negari Sakura ini mengalami deflasi serta lambannya pertumbuhan ekonomi.
Kendati demikian, Jepang memiliki potensi untuk mempertahankan gelar sebagai perekonomian nomor dua di dunia pada tahun lalu setelah China.
Sebagai informasi, pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal IV-2009 naik 4,6 persen, dibanding periode yang sama 2008. Pemicunya adalah pulihnya ekspor yang mendorong berkurangnya kekhawatiran resesi ekonomi global.
Secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi September hingga Desember naik 1,1 persen, lebih baik dibanding periode sebelumnya yang hanya 0,8 persen dan menjadikan kenaikan ketiga kalinya berturut-turut pascaresesi 2008.
Kendati membaik, sejumlah analis memperkirakan PDB Jepang tahun ini akan melambat dan membuat posisi Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia akan diambil alih oleh China.
(css)