Foto: Koran SI
TOKYO - Menteri Keuangan Jepang Naoto Kan menargetkan indeks harga konsumen (CPI) tahunan tumbuh satu persen. Tokyo mendesak Bank Sentral Jepang (BOJ) mendukung langkah pemerintah merealisasikan target inflasi tersebut.
“Secara pribadi saya memprediksi pertumbuhan sekitar satu persen (CPI) atau lebih kecil. Saya pikir kontribusi BOJ dibutuhkan untuk target pemerintah tersebut,” kata Kan dalam penjelasan kepada Komisi Anggaran DPR Jepang kemarin. Pernyataan Kan memicu tekanan lebih besar kepada BOJ agar mengeluarkan aksi yang bisa mendukung ekonomi Jepang yang saat ini masih suram. Gubernur BOJ Masaaki Shirakawa menyatakan akan membantu Tokyo.
Bank Sentral Jepang mengisyaratkan mempertahankan kebijakan moneter sangat longgar. Target inflasi Pemerintah Jepang sebenarnya seiring dengan BOJ. Sebelumnya bank sentral memprediksi CPI tahunan dua persen atau lebih rendah.
“Saya menilai pemerintah dan BOJ berbagi target dan sudah ada kesepahaman untuk memerangi deflasi. Namun, hanya sedikit ruang yang dimiliki BOJ untuk ekspansi kebijakan moneter longgar dan ini tidak akan memberikan pengaruh apa-apa terhadap ekonomi,” ujar Direktur Ekonomi Asia Action Economics Singapura David Cohen.
Cohen menilai, argumen BOJ hanya bersifat persuasif sebab BOJ hanya bisa memberi bantuan berupa mempertahankan suku bunga sebesar nol.
Desember lalu BOJ menegaskan tidak akan menoleransi inflasi nol. Ini pernyataan BOJ seputar inflasi paling keras sejak 2006 sehingga harga jatuh. Saat ini Negeri Sakura dibayang- bayangi ancaman deflasi yang akan melukai perekonomian. Rumah tangga menahan belanja dengan harapan harga akan terus turun.
Jepang mengalami inflasi di atas 1 persen hanya pada 2008 saat CPI naik 1,5 persen akibat lonjakan harga energi dan komoditas global. Ekonom memproyeksikan BOJ mempertahankan suku bunga acuan di 0,1 persen.Jepang diharapkan bisa mencegah perekonomiannya masuk jurang resesi kedua meskipun pada awal 2010 terjadi pelemahan.
BOJ diproyeksikan meluncurkan kebijakan moneter longgar lagi jika terjadi gejolak di pasar seperti kenaikan nilai tukar yen dan kejatuhan harga saham di Tokyo sebab ini akan mengancam pemulihan ekonomi yang saat ini masih lemah. Shirakawa telah mengajukan rencana kebijakan yang hampir sama kepada Komite Keuangan DPR.
BOJ menyatakan siap menyuntik pasar dengan dana segar jika dibutuhkan. “Kami akan serius melawan deflasi. Itu akan membutuhkan waktu dan deflasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihadapi BOJ sendirian. Namun, kami akan melawan dengan sekuat tenaga,” ungkap Shirakawa. Shirakawa mengakui, kebijakan moneter longgar bisa menjaga kestabilan keuangan, tapi memiliki kemampuan terbatas untuk mencegah harga naik.
Ekonomi Jepang tumbuh lebih cepat dari prediksi ekonom pada kuartal keempat lalu. Lonjakan kinerja didorong oleh stimulus pemerintah, rebound permintaan domestik, dan investasi korporasi. Namun, pasar tetap fokus pada penurunan produk domestik bruto (PDB) tahunan sebesar 3 persen.
Ketidakseimbangan pasokan (lebih tinggi) dengan permintaan membuat Jepang hanyut dalam deflasi yang dalam. “Deflasi tidak akan ditanggapi dengan pelonggaran kebijakan moneter, tapi memaksa BOJ mempertahankan kebijakan moneter yang longgar,” papar analis suku bunga senior BNP Baribas Securities Takafumi Yamawaki. (Rtr/Ahmad Senoadi)
(//css)