Foto: Koran SI
JAKARTA - Mulai tahun ini penggunaan dana Badan Layanan Umum (BLU) jalan tol semakin diperluas tidak hanya dana bergulir, namun juga untuk membebaskan lahan tol yang tidak feasible (tidak layak) secara finansial, tapi layak secara ekonomi.
“BLU sekarang sudah beda dengan BLU yang dulu. Sekarang bisa untuk membebaskan lahan tol yang tidak feasible,” ujar Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto di Jakarta baru-baru ini. Pada tahun sebelumnya, dana BLU merupakan dana bergulir untuk membebaskan tanah tol.
Di mana dana tersebut akan digunakan untuk pembebasan lahan, setelah bebas investor harus mengembalikan dana tersebut kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) dengan sejumlah bunga.Selain itu, BLU juga digunakan hanya untuk ruas tol yang feasible saja. Sementara itu,dana BLU mulai 2010 akan juga digunakan untuk membebaskan lahan tol yang tidak feasible secara finansial, tetapi layak secara ekonomi.
Dengan demikian dana yang digunakan untuk membebaskan lahan tidak perlu dikembalikan kepada BPJT. Djoko mengatakan, meskipun pemerintah memberikan keleluasaan tidak perlu dikembalikan dana BLU untuk ruas tol yang tidak feasible secara finansial, tetapi pemerintah akan menggunakannya secara cermat dan akan memanfaatkannya seefektif mungkin dalam penggunaannya.
Kepala BPJT, Nurdin Manurung mengatakan pemerintah tengah mempersiapkan dana BLU sebesar Rp6,5 triliun untuk pembangunan jalan tol di tahun 2010. “Tol Trans-Jawa menjadi prioritas yang akan diselesaikan pemerintah dalam lima tahun ke depan,” paparnya. (Arif Dwi Cahyono)
(//css)