Getting time...

Selepas FTA, Penerimaan Pajak Impor Naik 29,9%

Widi Agustian - Okezone
Senin, 22 Februari 2010 14:06 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Pascapemberlakukan FTA ASEAN-China, per 12 Februari 2010 penerimaan perpajakan yang berasal dari bea masuk dan pajak dalam rangka impor (PDRI) mengalami kenaikan sebesar 29,9 persen (yoy) atau setara dengan Rp3,043 triliun.

Demikian diungkapkan Direktur Teknis Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Agung Kuswandono dalam Talkshow bertajuk Membedah APBN 2010, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (22/2/2010).

Tercatat, penerimaan perpajakan pada 12 Februari sebesar Rp13,217 triliun, naik dari sebelumnya yang sebesar Rp10,174 triliun (yoy). "Kenaikan importasi meningkatkan penerimaan PDRI 37,7 persen, sehingga secara netto terdapat kenaikan penerimaan dari pajak perdagangan internasional sebesar 29,9 persen," jelasnya.

Padahal, bea masuk mencatatkan penurunan kinerja sebesar 1,4 persen atau minus Rp28,8 miliar menjadi Rp2 triliun dari sebelumnya yang sebesar Rp2,033 triliun.

"Tidak adanya bea masuk akibat FTA, akan menurunkan cost bagi sektor riil sehingga akan meningkatkan laba yang akhirnya menjadi potensi peningkatan penerimaan pajak dalam negeri," ucapnya.

Sementara itu, PPn impor tercatat naik 37,3 persen atau Rp2,237 triliun menjadi Rp8,24 triliun dari sebelumnya yang sebesar Rp6 triliun. Sedangkan PPh Ps 22 impor tercatat naik 29,9 persen atau Rp574,26 miliar, menjadi Rp2,497 triliun dari sebelumnya yang sebesar Rp1,922 triliun.

Di samping itu, untuk PPnBM impor naik cukup signifikan sebesar 120,7 persen atau Rp260 miliar menjadi Rp475,48 miliar, dari sebelumnya Rp215,49 miliar.

Sementara, dutiable impor meningkat sebanyak 27 persen atau USD1.753, meningkat menjadi USD8.216 dari sebelumnya USD6.463. Dan kurs rupiah, menguat sebanyak 17,5 persen atau Rp1.989 ke posisi Rp9.359, dari sebelumnya Rp11.349 per USD.

"Dutiable import meningkat 27 persen, namun adanya FTA dan penguatan rupiah, ternyata bea masuk turun 1,4 persen," paparnya. (ade)
TWITTER »
twit