Getting time...

Kinerja Pertamina Dinilai Masih di Bawah Harapan

Candra Setya Santoso - Okezone
Selasa, 23 Februari 2010 10:57 wib
Gedung Pertamina. Foto: Okezone.com
Gedung Pertamina. Foto: Okezone.com
JAKARTA - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih di bawah harapan. Salah satunya adalah PT Pertamina (Persero) bila dibandingkan dengan perusahaan minyak asing, Pertamina seperti memiliki penyakit di dalamnya.

"Pertamina memiliki ongkos yang jauh lebih besar dibanding Chevron. Saya tegaskan bukan antiasing, tapi kalau melihat kondisi Pertamina menghasilkan satu barel minyak ongkosnya USD36,1, sedang Chevron hanya USD6,8, itu ada apa yang jadi pertanyaan juga," kata Faisal Basri, saat ditemui di acara peluncuran Danareksa Mawar Fokus 10, di Hard Rock Cafe, Jakarta, Selasa (23/2/2010).

Tak hanya dengan Chevron yang lebih ekonomis, sambung Faisal, dibanding seluruh rata-rata sharing kontrak yang lain, yang hanya USD9,8 per barel, Pertamina tetap lebih boros.

Juga efisiensi produksi minyak atau gas Pertamina dibandingkan dengan perusahaan migas lain, terutama asing yang beroperasi di Indonesia, jauh dari harapan.

Dalam produksi migas selama periode 2004-2006, rata-rata Pertamina membebankan cost recovery termahal, yakni USD27,4 per barel minyak. Jika harga di pasar dunia USD100 per barel, mungkin tidak efisiennya produksi Pertamina tidak terasa.

"Tapi, bagaimana jika harga internasional cuma USD40 per barel. Masa iya, 70 persen pendapatan minyak habis begitu saja untuk membayar biaya produksi Pertamina? Mahalnya cost recovery Pertamina ini, jelas sangat-sangat keterlaluan, dan tidak masuk akal karena biaya tertinggi kedua hanya USD18 per barel, bahkan ada yang bisa memproduksi dengan biaya hanya USD9,66 per barel," ungkapnya.

Ini tak jauh berbeda dengan biaya produksi per kaki kubik gas, Pertamina membebankan cost recovery USD3,3. Kontraktor lain hanya sebesar USD1,3-2,75 per kaki kubik gas. "Karenanya biaya Pertamina lagi-lagi paling mahal," sambungnya.

Faisal menilai secara agregat, Pertamina menyumbangkan 11,8 persen minyak mentah Indonesia, namun menghabiskan 21,9 persen biaya produksi yang ditanggung negara. Untuk gas, Pertamina menyumbang 15 persen produksi, namun menelan 23,7 persen dari total biaya produksi gas nasional.
(ade)
  • Du » 0 Tanggapan
    Sayang pak Faisal Basri lupa, kalau Cost Recovery PT.Pertamina itu tetap sebagai devisa tinggal, sementara jika Chevron akan dibawa ke luar ke negerinya.
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit