Ekonom Faisal Basri. Foto: Koran SI
JAKARTA - BUMN minyak dan gas terbesar, yakni PT Pertamina (Persero) sangat diandalkan. Bahkan, banyak orang terkesima dengan ukuran perusahaan serta jumlah laba yang disetorkan kepada negara.
Kendati demikian, disayangkan tapi sayangnya tidak menunjukkan kinerja yang wajar bahkan memuaskan.
"Permasalahan Pertamina mencakup manajemen dan kelemahan etos kerja, politisasi dan penjarahan, dan korupsi dan kelalaian, tegasnya. Diharapkan, kinerja pengurus Pertamina yang baru harus lebih baik tentunya," ungkap pengamat ekonomi Faisal Basri, dalam peluncuran Danareksa Mawar Fokus 10, di Hard Rock Cafe, Jakarta, Selasa (23/2/2010).
Seperti diketahui, Menteri BUMN Mustafa Abubakar Mustafa mengatakan, jika target laba Pertamina dinaikkan menjadi Rp25 triliun pada 2010 ini, dibandingkan dengan 2009 yang sebesar Rp17 triliun.
"Tahun 2009, laba Rp17 triliun itu kecil, karena harga minyak rendah. Tapi 2010, seiring naiknya harga minyak ke USD78-USD80 per barel, ditetapkan Rp25 triliun. Mudah-mudahan tercapai," jelasnya, kemarin.
Sementara itu, menurutnya dividen tersebut sangat tergantung dari perjalanan satu tahun. "Kita akan minta kepada Depkeu dan DPR untuk dilonggarkan (dividennya), untuk mengembangkan hulu, sektor pengolahan dan lainnya," tukasnya.
(ade)