Getting time...

Pemerintah Optimistis Raih Rp170 T

Selasa, 23 Februari 2010 18:52 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
JAKARTA - Pemerintah optimistis realisasi investasi dari komitmen perjanjian yang diberikan pemerintah Amerika Serikat (AS) kepada pihak Indonesia. Investasi yang dimaksud dalam penanaman modal dalam negeri (PMDM) dan penanaman modal asing (PMA) yang nilainya mencapai Rp170 triliun.

"Tahun lalu, realisasi PMDN dan PMA sekira Rp160 triliun hingga Rp170 triliun," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (23/2/2010).

Sementara itu, Wakil Ketua Umum bidang Kerjasama Ekonomi Internasional Kamar dagang dan industri (Kadin) John A Prasetyo menyatakan, kunjungan Obama ke Indonesia harus dimanfaatkan secara optimal. "Indonesia akan disorot oleh banyak media asing. Itu menjadi kesempatan bagi kita untuk memamerkan setiap daerah di Indonesia, misalnya Yogyakarta," ujar John.

John menjelaskan, setiap individu di masyarakat, harus bisa saling bekerja sama untuk bisa mendukung bertambahnya nilai investasi di Indonesia.

"Agar investasi dan perdagangan maju, maka harus diperlihatkan kesan bahwa kondisi politik stabil. Kita bisa bersatu untuk memajukan investasi. Jangan memperlihatkan hal yang malah bisa merusak. Itu omong kosong namanya," jelasnya.

Indonesia, lanjut dia, harus bisa melihat apa saja keuntungan dari kunjungan Obama ke Indonesia. "Seperti Hillary Clinton ke China dan Obama ke Korea itu mereka membicarakan proyek besar. Kita harus bisa memikirkan proyek yang besar, misalnya kita kan belum punya teknologi canggih seperti AS untuk mengolah tanaman ganggang dan manfaatkan tenaga surya. Jangan hanya membicarakan bangun toilet di Tanah Abang. Itu kan nilainya cuma Rp100 juta, kita masih mampu," ujar dia.

Menurut John, pihak AS akan mengetahui apa saja yang menjadi keinginan Indonesia, sehingga, kata dia, akan tercipta win-win solution. "Kita boleh mempunyai wish list. Kemudian kita offer apa saja untuk AS. Mereka enggak akan pernah memberi apabila kita tidak minta karena kita terlalu gengsi," tutur John.

John menjelaskan, AS merupakan salah satu pasar penting bagi Indonesia karena, lanjut dia, nilai ekspor ke AS jauh lebih besar daripada negara lain seperti Jepang.

"Ekspor ke AS lebih besar daripada impor ke kita, terutama untuk barang industri seperti tekstil dan alas kaki. Ekspor kita ke AS selalu surplus, tahun 2008 sudah lebih dari USD5 miliar. Jadi, jangan sampailah ada proteksionisme terhadap produk kita yang masuk ke sana. Seperti waktu itu produk kertas kita yang dituduh dumping oleh mereka," jelasnya.

John mengakui, pihaknya setuju apabila Indonesia bekerja sama dengan AS dalam bidang edukasi. Lebih lanjut lagi, dia mengatakan, nilai investasi non oil AS di Indonesia adalah sebesar USD70 juta pada 2009 dibandingkan USD6 miliar pada 2008.

"Sebenarnya AS bilang, akan menambah investasi tapi mereka mempermasalahkan ketidakpastian hukum dan governance. Mereka juga mau infrastruktur kita diperbaiki. Intinya AS mau Indonesia bisa lebih konsisten, jangan sedikit-sedikit ganti peraturan. Kalau di AS kan investasi itu banyak syaratnya seperti tranparansi. Indonesia kan mau tidak mau punya potensi cukup di natural resources. Bagaimana kita manfaatkan kekayaan alam dengan teknologi yang ramah lingkungan," tandas John.
(Sandra Karina/Koran SI/css)
TWITTER »
twit