Foto: Koran SI
JAKARTA - Indonesia tengah dihadapkan oleh berbagai permasalahan internal. Mulai dari estimasi pembengkakkan defisit APBN hingga persoalah Century. Kondisi yang kurang menguntungkan ini dikhawatirkan akan mempengaruhi citra ekonomi Indonesia di mata investor.
Seperti wacana naiknya defisit sebesar 2,2 persen dari gross domectic domestic (GDP), nampaknya hal itu tidak akan mempengaruhi penilaian dunia internasional atas Indoneisa.
"Kecil lah, kalau dibayangkan dari 1,6 persen ke 2,2 persen itu kan hanya naik 0,6 persen," kata Direktur Utama Pefindo usai Media Forum di Setiabudi Atrium, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Selasa (24/2/2010).
Pemerintah, sejauh ini juga masih cukup percaya diri atas kondisi ketahanan ekonominya. Apalagi, dari sukuk yang terakhir diterbitkan oleh pemerintah juga nampaknya cukup diminati. "Pemerintah juga pede sekali, sukuknya juga pas, kalau dari sisi total issuer tidak besar pengaruhnya. Apalagi ke ratingnya," tukas dia.
Hal yang sama juga diungkapkan atas masalah Pansus DPR yang nampaknya akan menyebut nama atas siapa yang bertanggung jawab atas kasus Bank Century. "Tidak ada impact, stabilitas politik kita terjaga, walau ada pemakzulan pun," jelas dia.
Bahkan, menurutnya jika terjadi pergantian presiden pun sudah ada sistem yang akan mengaturnya. "Kita tinggal Pemilu lagi, reshuffle kalau ganti menteri, asing sudah tidak sensitif lagi," ungkapnya.
Dia menambahkan, pasar obligasi atau pasar perbankan sudah ada target yang harus dipenuhi, di mana diperlukan korporat bond untuk obligasi portofolio itu. (ade)