Foto: Koran SI
JAKARTA - Total transaksi saham pada Februari 2010 turun dibandingkan bulan sebelumnya. Kendati demikian, nilai transaksi pada dua bulan pertama tahun ini melonjak 154 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Berdasar data yang dihimpun Seputar Indonesia,total transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama Februari berkisar Rp56 triliun. Jika dihitung selama 17 hari perdagangan di bulan ini,rata-rata transaksi harian senilai Rp3,29 triliun. Angka tersebut menurun dibanding statistik bulan lalu.Total transaksi perdagangan di BEI pada Januari 2010 mencapai Rp79,01 triliun. Dengan perdagangan selama 20 hari, rata-rata transaksi harian pada Januari sebesar Rp3,95 triliun.
Kepala Riset Mandiri Sekuritas Ari Pitojo mengatakan, penurunan transaksi ini tak lepas dari situasi dalam negeri uang nyaris sepi sentimen positif. “Sudah tidak ada sentimen.Dari dalam negeri paling hanya kasus Bank Century dan kinerja 100 hari pemerintahan yang lewat begitu saja,” ujarnya.
Senada dengan Ari, analisis dari Asia Financing Network (AFN) Rowena mengatakan, berlarut- larutnya kerja Pansus Century membawa ketidakpastian dalam investasi. “Yang pasti di Februari ini banyak ketidakpastian,sedangkan pasar butuh kepastian. Contohnya Yunani, sewaktu Uni Eropa belum memberikan komitmen untuk membantu mereka,para investor juga khawatir dan cenderung menahan diri,” tuturnya.
Dia menambahkan, Februari ini memang serbatanggung karena dampak Januari (January Effect) sudah hilang, sedangkan laporan keuangan emiten belum dirilis.Namun, dia memperkirakan pasar kembali bergairah pada Maret, seiring munculnya laporan emiten mengenai kinerja keuangan 2009 yang diperkirakan positif. “Katakan nanti bulan Maret minggu kedua dan ketiga laporan keuangan mulai banyak keluar,orang pun mulai melihat-lihat,” imbuhnya.
Meski cenderung turun pada Februari, total transaksi reguler di BEI sepanjang 2010 tetap jauh lebih bagus dibanding periode sama tahun sebelumnya.Total transaksi hingga penutupan kemarin mampu mencapai Rp135,02 triliun dengan rata-rata transaksi harian Rp3,64 triliun. Sedangkan total transaksi di Januari dan Februari 2009 hanya sebesar Rp56,05 triliun dengan rata-rata transaksi harian Rp1,43 triliun. Artinya, nilai transaksi 2010 sudah tumbuh sekitar 154 persen dibanding tahun lalu. Pada Januari transaksi tertinggi terjadi pada tanggal 8 yakni sebesar Rp6,05 triliun.
Sedangkan transaksi terendah terjadi pada hari pertama pembukaan perdagangan, yakni 4 Januari,sebesar Rp2,36 triliun. Sedangkan di Februari, transaksi terbesar terjadi pada tanggal 10 yaitu sebesar Rp5,86 triliun. Sementara transaksi terendah pada 16 Februari yang hanya mencapai Rp1,58 triliun. Dengan sesi perdagangan Februari tinggal tiga hari,nilai transaksi harian Februari 2010 bisa dipastikan akan lebih rendah dibanding Januari 2010. Menurunnya jumlah transaksi di dua bulan pertama 2010 ini mengulang hal serupa yang juga terjadi tahun lalu.Sebagai perbandingan, total transaksi di Januari 2009 sebesar Rp31,39 triliun. Dengan 19 hari perdagangan, rata-rata transaksi harian sebesar Rp1,65 triliun.Sementara di Februari 2009 total transaksi sebesar Rp24,66 triliun.
Dengan 20 hari perdagangan, rata-rata transaksi harian sebesar Rp1,23 triliun. Penurunan juga terjadi pada nilai rata-rata transaksi margin. Selama tiga pekan di bulan ini,rata-rata transaksi margin hanya Rp3,33 triliun per hari, turun 15,66 persen dibandingkan bulan sebelumnya Rp3,95 triliun.“Kalau melihat transaksimarginyangterjadidi Februari sejauh ini memang menurun dibanding periode Januari.Kelihatannya ini juga terkait perkembangan (global) yang terjadi,”ujar Direktur Perdagangan dan Pengaturan Keanggotaan BEIWanWei Yiong.
Menurut Wei Yiong, perdagangan saat ini memang diliputi sentimen negatif, terutama masalah defisit anggaran di sejumlah negara Eropa, yang dikhawatirkan memberi efek berantai ke sejumlah negara maju lain, termasuk Amerika Serikat. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, sangat riskan bila melakukan transaksi dengan fasilitas margin. (Johana Purba/Harley Ikhsan) (//css)