Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) hanya membutuhkan sisa dana sekira Rp21 triliun yang akan didapatkan dari pinjaman bank dan obligasi.
"PLN tahun ini membutuhkan dana sebesar Rp71 triliun, dan dari jumlah itu sebesar Rp50 triliun telah terpenuhi. Sementara itu selebihnya akan dicari dalam beberapa waktu ke depan," ucap Direktur Keuangan PLN Setyo Anggoro Dewo, di Jakarta, Rabu (24/2/2010).
Dana tersebut akan digunakan untuk mendanai bisnis transmisi perseroan dan membayar uang muka pembangkit oleh JICA dan JBIC.
Sebelumnya dikatakan oleh Dewo, bahwa kebutuhan transmisi sebesar USD2 miliar untuk program 10.000 megawatt (MW), baru USD1,1 miliar yang sudah terpenuhi sehingga masih membutuhkan pendanaan sekira USD900 juta yang setara dengan Rp9 triliun.
"Untuk transmisi itu, kami sedang membicarakannya dengan perbankan nasional. Masih ada dana yang belum tersedia yang setara dengan Rp9 triliun," sebutnya.
Sampai saat ini pihaknya masih menghitung persentase yang tepat untuk menentukan sumber pembiayaan baik dari bank maupun obligasi. Namun dia menegaskan, bahwa hasilnya belum tentu keluar semester depan. (Johana Purba/Koran SI/ade)