Ilustrasi: CPO (Foto: Koran SI)
JAKARTA - Peningkatan konsumsi minyak makan di dunia pada 2020 diperkirakan mencapai 232,4 juta ton. Jumlah tersebut meningkat cukup pesat dibandingkan tahun 2006 sebesar 166,5 juta ton. Artinya dalam 14 tahun akan terjadi peningkatan konsumsi sebanyak 40 persen.
"Dari konsumsi minyak makan dunia itu, kontribusi minyak sawit (palm oil) cukup besar mencapai 27,5 persen untuk makanan, farmasi dan oleo chemical," kata Menteri pertanian Suswono dalam siaran pers acara International on Palm Oil and Envirobment (ICOPE) di Bali, Rabu (24/2/2010).
Konsumsi minyak makan di negara AS dan Eropa sekitar 55 kg per kapita, sedangkan di China, India dan Indonesia baru sebanyak 20 kg per kapita per tahun. Diprediksi pada masa mendatang konsumsi minyak sawit di negara-negara dunia akan meningkatan pesat, termasuk untuk bahan baku industri biofuel.
Dibandingkan dengan jenis minyak makan lainnya yakni minyak kedelai dan rapseed, Suswono mengakui, minyak sawit termasuk bahan baku minyak makan dan energi yang paling efisien. Baik dari sisi lamanya umur tanaman hingga produktivitas tanaman per hektare.
Di Indonesia produktivitas tanaman rata-rata 3,5 ton per ha. Bahkan untuk perkebunan besar mencapai 8 ton per ha, sedangkan perkebunan rakyat sekitar 2 ton per ha. Pada 2009, luas lahan perkebunan sawit sebagian besar dikuasai perkebunan rakyat, sekitar 40 persen atau 7,5 juta ha.
Mentan mengakui, pengembangan perkebunan sawit di Indonesia menghadapi isu lingkungan. Karena itu pengembangan perkebunan sawit hanya dilakukan pada hutan produksi yang dapat dikonversi (HKP) dan tidak menggunakan lahan yang mempunyai nilai konservasi.
"Kami akan memprotek untuk kepentingan diversity, flora dan fauna," ujarnya.
Sementara itu Presiden Direktur PT SMART Tbk, Daud Dharsono juga mengakui, kebutuhan dunia terhadap minyak sawit serta produk turunannya terus meningkat. Apalagi kini minyak sawit menjadi bahan utama produksi minyak makan dan lemak nabati.
Peningkatan kebutuhan tersebut, karena negara-negara produsen seperti Indonesia menjadi industri sawit sebagai salah satu kontributor pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan sosial. Sementara bagi dunia, komoditas ini menjadi salah satu sumber utama produksi pangan dan energi terbarukan yang setiap saat terus meningkat kebutuhannya.
Karena itu hanya dengan mengelola secara berkelanjutan, negara-negara berkembang dapat memperoleh manfaat optimal dari komoditas ini dan kebutuhan dunia tetap terpenuhi. "Kami sangat berharap ICOPE tahun ini dapat memberikan terobosan penting pengelolaan industri sawit berkelanjutan, khususnya di sektor lingkungan," ujar Daud.
Namun demikian, Daud mengakui, upaya meningkatkan produksi minyak sawit berbarengan dengan ancaman serta dampak perubahan iklim. Karena itu menjadikan seluruh pemangku kepentingan industri sawit berusaha mengedepankan pola operasi yang ramah lingkungan.
"Sebenarnya ini adalah praktik sudah lama diinisiasi dan terus disempurnakan. Karena hanya dengan beroperasi sesuai praktik agribisnis terbaik, industri sawit akan mampu membangun keberlanjutan," tuturnya.
Menurut Daud, cara jalan terbaik menetapkan mekanisme keberlanjutan tadi adalah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam industri sawit dengan acuan, kriteria dan mekanisme yang ilmiah dan disepakati bersama. Karena itu Daud berharap hasil pertemuan ini mendapatkan solusi terbaik bagi industri perkebunan sawit.
Dari mulai penanggulangan dampak perubahan iklim, pelestarian keanekaragaman hayati, pengkajian serta pengukuran dampak lingkungan dari keberadaan perkebunan. Selain itu penanganan aspek lingkungan oleh perkebunan skala kecil, serta intensifikasi ekologis perkebunan sawit.
Saat ini seluruh pemangku kepentingan dalam industri sawit sangat membutuhkan pemahaman, mekanisme serta solusi yang disepakati bersama dan teruji secara ilmiah.
Di satu sisi minyak sawit harus memenuhi kebutuhan dunia. Tapi di sisi lain masih harus berhadapan dengan belum tuntasnya kajian mendalam terhadap mekanisme dan metodologi pengukuran jejak karbon pada produksi minyak sawit dan produk turunannya. Begitu juga kajian mengenai pelestarian lingkungan, keanekaragaman hayati berikut dampak sosial yang menyertainya. (wdi)
(Sudarsono/Koran SI/rhs)